Pages

Jumat, 27 Januari 2017

[Resensi] Menyelami Kesabaran Tiada Batas



Judul Buku     : Tentang Kamu
Penulis            : Tere Liye
Penerbit          : Republika
Editor              : Triana Rahmawati
Cover              : Resoluzy
Lay out           : Alfian
Cetakan          : II, Oktober 2016


Blurb

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu,
itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku.
Cinta memang tidak perlu ditemukan,
cintalah yang akan menemukan kita.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali,
aku tidak akan menangis karena sesuatu telah
berakhir, tapi aku akan tersenyum karena
sesuatu itu pernah terjadi.

Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi.
Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir.
Maka biarlah hidupku mengalir seperti
sungai kehidupan.

Review

Tere Liye kembali hadir dengan novel terbarunya berjudul 'Tentang Kamu.' Berbeda dari karya sebelumnya, seperti Matahari, dan serialnya- yang bergenre fantasi. Novelnya kali ini lebih ke romance. Meski tidak semuanya berisi tentang hal percintaan. Lebih tepatnya, petualangan yang seru! Kenapa seru? Karena petualangan di sini menyelidiki kasus harta warisan dari perempuan bernama Sri Ningsih, yang mana justru menghabiskan masa tua di panti jompo. Tak menunjukkan apapun petunjuk untuk mengetahui siapa ahli warisnya, selain surat wasiat singkat.
            Jadilah Zaman Zulkarnaen, associate dari sebuah firma hukum bernama Thompson & Co., menelusuri jejak masa lalu Sri Ningsih. Menjelajah ke berbagai negara sampai ke pulau berpenduduk terbanyak di Indonesia, yaitu pulau Bungin. Perjalanan yang akan membuat kita belajar memaknai lebih dalam tentang nilai-nilai baik kehidupan ini. Tentang rasa sakit, kesabaran, keikhlasan, keteguhan hati, meluruh bersama kehidupan tokoh Sri Ningsih.
            Berbekal buku diary Sri Ningsih yang didapatkan Zaman Zulkarnaen dari Aimée
Buku diary Sri Ningsih tersusun atas beberapa bab, di novel ini disebut Juz.

Juz Pertama. Tentang kesabaran. 1946-1960.
            Terima kasih banyak atas pelajaran tentang kesabaran. Bapak, aku akhirnya memahaminya. Apakah sabar memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apa pun akan luruh oleh rasa sabar.... (Hal. 48)

            Apa rasanya hidup mendapat cap buruk? Pasti sedih sekali. Namun, berbeda dengan Sri Ningsih. Meski dijuluki 'Anak yang dikutuk,' ia tetap menjalani kehidupannya dengan kesabaran.
            "Kamu tahu kenapa bapakmu tenggelam di laut, hah?" (Hal. 104)
            "Itu karena kamu, anak sial! Anak yang dikutuk!
            "... Kamu membuat orang lain mati!" (Hal. 105)
            Semua penderitaan sejak bapaknya meninggal, ia terus jalani. Hidup bersama dengan Ibu tiri yang sudah tak baik seperti dulu lagi. Nusi Maratta, Ibu kedua yang berubah bak seorang monster yang ingin memakannya, setelah suaminya meninggal. Sri Ningsih hanya ingin menjadi anak yang patuh pada pesan bapaknya saat masih hidup.
            "Selama bapak pergi, hormati dan patuhi Ibumu. Lakukan apa yang dia suruh tanpa bertanya. Turuti apa yang dia perintahkan tanpa membantah. Jangan mudah menangis. Jangan suka mengeluh. Kamu adalah anak seorang pelaut tangguh. Bersabarlah dalam setiap perkara." (Hal. 95)
            Nusi Maratta terus menyiksa Sri Ningsih remaja, di sisi lain, ia dijadikan tulang punggung utama untuk Nusi Maratta dan anaknya yang sekaligus adik tiri Sri Ningsih, yaitu Tilamuta.
            "Malam ini kamu tidur di luar! Tidak ada dipan gratis!" (Hal. 107)
            "Ini pukul tujuh malam, Sri, Kenapa kamu mendadak ingin meminjam perahu? Kamu mau ke mana?" Ode bertanya.
            "Aku harus mengambil air bersih."
            "Tapi, tidakkah bisa ditunda besok? Langit gelap, sebentar lagi hujan."
Sri menggeleng, "Air di rumah habis. Ibuku menyuruh-" (Hal. 119)

Juz Kedua. Tentang Persahabatan. 1961-1966.
            Apa arti persahabatan? Apa pula arti pengkhianatan? Apakah sahabat baik akan menghianati sahabat baiknya? Bapak, Ibu, ternyata Sri bukan sahabat yang baik. Sri telah menghianati teman terbaik. Sri harus memilih, apakah sahabat sejati atau kebenaran.... (Hal. 141)

            Sepeninggal Ibunya, Sri bersama Tilamuta melakukan perjalanan jauh. Dari sumbawa sampai ke pulau Jawa. Berbekal petunjuk dan amanah dari Tuan Guru Bajang, mereka pun menyetujui untuk menuntut ilmu di Madrasah Kiai Ma'sum. Bahkan, di tempat  inilah Sri bisa memiliki dua sahabat terbaiknya. Yaitu Nuraini dan Sulastri. Hingga tiba di satu titik, persahabatan mereka runtuk oleh kedengkian.
            Di bab ini, kita juga dapat menilik sejarah singkat tentang PKI.
            "akhir september 1965, saat kelompok yang menamakan dirinya Partai Komunis Indonesia (PKI) berusaha habis-habisan menyusun rencana mengambil alih kekuasaan yang sah." (Hal. 181)
            Sulastri mengikuti suaminya, Musoh. Setelah Musoh memutuskan keluar dari Madrasah Kiai Ma'sum, karena merasa posisinya sudah tergantikan oleh suaminya Nuraini. Dia aktif di organisasi komunis itu. Dendam bercampur dengki dari istrinya semakin membuahkan murka. Pembantaian pun tak bisa dicegah.
            Bagaimana sikap Sri Ningsih? Apakah tetap memilih persahabatan atau kebenaran? Dilanjut ke juz selanjutnya.

Juz Ketiga. Tentang Keteguhan hati. 1967-1979.
            Saat kita sudah melakukan yang terbaik dan tetap gagal, apa lagi yang harus kita lakukan? Berapa kali kita harus mencoba hingga tahu bahwa kita tiba pada batas akhirnya? (Hal. 109)
Aku tahu sekarang, pertanyaan terpentingnya bukan berapa kali kita gagal, melainkan berapa kali kita bangkit lagi, lagi, dan lagi setelah gagal tersebut. (Hal. 110)

            Sri Ningsih memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Ia harus mengubah kehidupannya. Terutama, melupakan rasa sakit dan pengalamannya di Madrasah Kiai Ma'sum, setelah tragedi pembantaian PKI di sana. Terlebih, kabar adiknya, Tilamuta yang ikut terbunuh.
            Berbekal keberanian, Sri Ningsih terus mencoba mencari pekerjaan di Jakarta. Mencarinya dari hari ke hari. Pagi sampai gelap.
            "Ternyata mencari pekerjaan di jakarta susah, Nur. Kata siapa mudah. Setiap hari mulai pukul tujuh pagi aku berjalan kaki tiada henti menelusuri jalan-jalan, terik matahari membakar kepala, keluar-masuk bangunan, baru sorenya menjelang gelap aku pulang." (Hal. 219)
            Selama tiga bulan mengelilingi Jakarta untuk mencari pekerjaan, namun apa yang dicarinya ternyata hanya lima puluh meter dari tempat sewanya. Meski lebih tepat disebut sebuah pengabdian, karena menjadi pengajar di sebuah Sekolah Rakyat. Sri Ningsih menjadi guru bahasa asing. Sungguh, buah yang manis atas sebuah keteguhan hati.
            Bahkan, roda kehidupan membentuk cemerlang jiwa Sri Ningsih. Ia memutuskan keluar dari Sekolah Rakyat, dan berbisnis. Mulai dari inovasinya membuat gerobak kaki lima, rental mobil, sampai mendirikan pabrik sabun mandi, yang ia namai mereknya dengan 'Sabun Mandi Rahayu.' Nama Ibu kandungnya.
            Untuk yang menyukai dunia bisnis, pun bisa belajar dari naluri dan insting Sri Ningsih. Tentang memanfaatkan peluang, keberanian mengambil resiko, dan sebagainya.
            "Sri memiliki naluri bisnis yang tajam. Tahun-tahun itu, ketika Jakarta lebih dikenal dengan kampung luas- alih-alih metropolitan, Sri kembali menemukan ide baru, menyediakan rental mobil untuk orang asing. Sri memang tidak pernah mengenyam sekolah bisnis, atau belajar manajemen bisnis, tapi dia tahu persis segmentasi pasar yang akan dia garap. Sri melakukan riset secara otodidak, dan yang paling penting berani mengambil keputusan beresiko." (Hal. 245)
            "Kerja keras tidak pernah mengkhianati, Nur. Tiga bulan sejak rilis pertamanya, sabun 'Rahayu' laris manis." (Hal. 262)
            Namun di saat pabrik sabunnya sedang berkembang pesat, Sri Ningsih tiba-tiba menjual 100% kepemilikan pabrik. Dengan menjualnya lewat cara menukar saham. Sebagai imbalannya, perusahaan raksasa dunia yang membelinya itu memberikan 1% kepemilikan global absolut di perusahaan induknya.
            Keputusan Sri Ningsih yang mengejutkan itu, semakin menguliti rasa penasaran Zaman Zulkarnaen. Terlebih ia harus segera menemukan siapa ahli waris Sri.

Juz Keempat. Tentang cinta. 1980-1999.
            Bab diary yang cukup berbeda. Sebelumnya lebih mengisahkan tentang kesabaran, keikhlasan, keteguhan, di sini tentang cinta.
            Kepergian Sri Ningsih ke London dan memilih menjual pabriknya, turut menggoda penasaran saya juga. Untuk apa? Kenapa?
            Sri Ningsih justru mencari pekerjaan baru. Seperti saat ia pertama kali datang ke Jakarta. Lama mencari, hingga akhirnya ia mendapat pekerjaan sebagai supir bus. Itu pun harus dengan sangat memohon.
            "Aku butuh sekali pekerjaan, tolonglah. Apa saja yang bisa kulakukan di pool bus ini." (Hal. 315)
            Namun pemaparan di juz keempat dari buku diarynya Sri Ningsih inilah yang paling saya sukai. Terutama saat penulis menceritakan di Bab 24 "Tentang Kamu."
            Perkenalannya dengan pemuda asal Turki, bernama Hakan lama kelamaan menggoda hati Sri Ningsih. Perkenalan yang tak disengaja. Kekaguman Hakan pada Sri yang pemberani, saat mengusir pemuda yang membuat keributan di busnya. Berlanjut ke kebiasaan Hakan yang setiap pagi rela menaiki bus Sri, hanya untuk menyapanya beberapa menit. Sampai akhirnya, Sri mengetahui alasan dari sikap Hakan kepadanya selama ini.
            "Kalau kantornya di sana, kenapa dia setiap pagi naik bus rute 16 menuju arah selatan? Itu terbalik sekali dengan rute kantornya. Satu di atas, satu lagi di bawah, via kereta bawah tanah."
            "Yeap. Itulah rahasia kecilnya. Setiba di Victoria Bus Station, saat bus-mu melanjutkan rit, dia berlarian ke stasiun kereta Victoria, mengambil rute ke utara."
            "Anak muda itu sepertinya menyukaimu, Sri. Dia mengorbankan setidaknya satu jam untuk berputar setiap hari ke selatan. Memaksakan naik busmu sesuai jadwal., hanya untuk mengobrol lima menit, lantas berlarian kereta, menuju kantornya di utara. Aku tidak tahu, apakah dia tiba tepat waktu atau tidak di kantornya. Satu tahun penuh aku menyaksikan kegilaan ini." (Hal. 268-369)
            Keheranan Sri Ningsih mendengar kabar itu, membuatnya bertegas diri.
            "Apakah kantormu di British Telecom Watford, sebelah utara Greater London?"
            Hakan terdiam.
            "Jawab, Hakan." Sri mendesak
            Laki-laki Turki itu mengangguk.
            "Lantas kenapa kamu selalu naik bus-ku? Menuju ke selatan setahun terakhir? Kenapa menghabiskan waktu sejam untuk berputar arah? Buat apa?"
            Hakan terdiam lagi.
            "Karena... karena--" Hakan tak kuasa melanjutkan kalimatnya.
            Mata Sri berkaca-kaca, dia menangis. Itu tidak perlu lagi dikatakan. Sri sudah tahu.
            "Sore ini juga kamu datang ke apartemenku, Hakan. Bicara dengan keluarga Rajendra Khan. Jika kamu memang mencintaiku sebesar itu, bicara dengan Aabu, Aamii, mereka akan menjadi wakil keluargaku, tentukan tanggal pernikahan kita sore ini juga." (Hal. 370)
            Bukan hanya ketegasan diri seorang wanita yang dapat dipelajari dari bab ini. Namun, juga tentang pengorbanan. Ketulusan. Bahwa kebaikan secuil apapun yang lahir dari ketulusan, akan menemui kebahagiaan. Tiada sia-sia walau hanya kecil dipandang mata. Tiada merugi, walau semili. Manis sekali, bukan?

            Juz Kelima. Tentang memeluk semua rasa sakit. 2000-....
            Di sini lah akan diketahui. Tentang mengapa Sri Ningsih pergi ke London, saat pabriknya sedang berkembang pesat. Tentang fakta kondisi adiknya, Tilamuta. Dan tentang Sulastri, titik masa lalu yang cukup berpengaruh terhadap lika-liku kehidupannya. Juga tentang kenapa ia memilih tinggal di panti jompo, sedangkan ia mempunyai harta yang banyak?
            Jawabannya akan diketahui, saat menyelami juz terakhir dari diary Sri Ningsih. (biar penasaran :p , gak seru kan, kalau dipaparkan juga endingnya?)

-

Kelebihan Buku
Novel 'Tentang Kamu' ini, seperti halnya novel Tere Liye yang identik dengan pesan-pesan kehidupan. Di Novel ini pun, dapat kita pelajari makna nilai-nilai kehidupan itu. Tentang kesabaran, keikhlasan, dan impian. Tak luput, di sela-sela itu belum klop rasanya kalau tak menghadirkan kalimat-kalimat mutiara yang sangat menginspirasi. Antara lain yakni.


"Selemah apapun fisik seseorang, semiskin apa pun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya." (Hal. 48)

"Jika kita gagal 1000 x, maka pastikan kita bangkit 1001 x."(Hal. 210)

"Jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru."(Hal. 278)

"Cinta memang tidak perlu ditemukan, cinta-lah yang akan menemukan kita."(Hal. 286)

"Aku tidak akan menangis karena telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena asesuatu itu pernah terjadi."(Hal. 286)

"Karena dicintai begitu dalam oleh orang lain akan memberikan kita kekuatan, sementara mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh akan memberikan kita keberanian."(Hal. 286)

Secara tersirat, menurut saya penulis juga ingin menyampaikan bahwa karakter baik seseorang, itu jauh lebih berharga dari kondisi fisiknya. Hal ini tergambar pada tokoh Sri Ningsih, yang dijelaskan memiliki kondisi fisik pendek, gempal, dan hitam. Namun, kekayaan hatinya berupa keikhlasan, kesabaran, sangat kental dan lebih dirasakan pembaca.

Kekonsistenan karakter, alur, juga terjaga dengan baik, ditambah bahasa yang mudah dipahami, membawa pembaca bisa lebih mudah meresap makna ceritanya.

Kekurangan Buku
Sayang sekali, novel 'Tentang Kamu' ini masih memiliki beberapa typo yang cukup berulang kali.

Rasa cinta yang besar itu, lebih dari cukup untuk membuatnya menyayangi Sri Rahayu, seharusnya Rasa cinta yang besar itu, lebih dari cukup untuk membuatnya menyayangi Sri Ningsih (Hal. 84)

Hari itu, tahun 1955, usia Sri Rahayu menjelang sembilan tahun, seharusnya Hari itu, tahun 1955, usia Sri Ningsih menjelang sembilan tahun (Hal. 96)

Tapi Sri Rahayu berhasil menyelamatkan adiknya, Tilamuta. Seharusnya Tapi Sri Ningsih berhasil menyelamatkan adiknya (Hal. 137)

Tentang Sri Rahayu, anak yang dikutuk. Seharusnya Tentang Sri Ningsih, anak yang dikutuk (Hal. 137)

Sama seperti di Tukri. Seharusnya Sama seperti di Turki. (Hal. 342)

            Cover juga sejak awal lebih suka yang berlatar ombak dan batu karang. Menurut saya lebih mengena. Lebih menggambarkan tentang kesabaran, keteguhan hati, atas segala rintangan hidup yang dilalui oleh Sri Ningsih.

              Namun, di luar kekurangan itu, tentu masih lebih banyak sisi positifnya. Kita dapat belajar menyelami indahnya kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan hati dari tokoh Sri Ningsih ini. Sangat cocok pula untuk semua kalangan. Dari remaja sampai orangtua. Memahai agar tak mudah menyerah, ikhlas memeluk rasa sakit, serta menyelami makna, bahwa kesabaran tiada batasnya.


***

Resensi ini telah dimuat di Radar Sampit. Edisi Minggu, 22 Januari 2017