Pages

Kamis, 31 Agustus 2017

Kenapa Harus Nulis (Lagi) ?


Kenapa harus nulis? Pertanyaan sederhana, beraneka rupa jawabannya.
Namun, dari jawaban itulah yang cukup andil—'kan jadi arahan langkah ke depannya mengarungi dunia aksara.

"Menulis adalah dedikasi penuh untuk hidup dan untuk-Nya." (Tere Liye)

Menulis. Saya pun langsung teringat beberapa kalimat motivasi dari Tere Liye. Seperti di atas. Menulislah untuk dedikasi penuh hidupmu. Itu penulis produktif, ya... jawabannya begitu, pada saat sebuah acara bincang santai.
Lalu, bagaimana saya?

Kalau ditanya seperti itu dan menjelaskan dengan berbagai rupa, mungkin tak akan kelar sehari. Banyak hal yang membuat kita ingin menulis. Beberapa di antara, kebanyakan orang adalah:
> Ingin berbagi dengan orang lain
> Ingin meluapkan ekspresi kita
> Ingin menciptakan perubahan
> Ingin saling menasehati
> Ingin mengorasikan kebebasan jiwa, dan banyak hal lainnya.

Tapi, apapun itu tentu baik. Yang harus ditekankan selalu adalah jangan menulis karena materi semata. Bisa apa kita? Kalau hanya tujuannya materi, bisa kacau. Sangat mungkin akan menulis hal-hal negatif sekali pun, karena ada pihak yang mau membayarmu dengan mahal. Jadi, please jangan sampai, ya.
                                                                          ***
"Kalau menulis karena ketulusan, berbagi, maka terus lakukan. Konsisten di dalamnya." (Tere Liye)

Ya, cukuplah quote itu mewakili pertanyaan "kenapa saya harus nulis?" Saya menulis ingin untuk itu. Menulis karena gelisah. Gelisah melihat banyak remaja lebih menghabiskan waktu untuk hal-hal negatif, misalnya. Saya ingin berbagi. Menyentuh sisi lain dari sebuah cara menasehati. Ya, terutama dunia remaja, khususnya. Rasanya ada perasaan bersalah, kalau tak melakukan menulis. Bahkan, sesepele menulis status facebook yang mengajak ke arah kebaikan pun, itu bagian dari sesuatu yang barangkali itu yang dibutuhin mereka (remaja). 

Jadi, menulis karena...
Peduli. Berbagi. Menasehati Diri. Cinta.

Lalu, ketika rasa malas melanda, kita akan kembali ke alasan-alasan itu—motivasi kita menulis.
Namun, ada satu hal yang pasti. Menulis itu pekerjaan konkret. Nihil, kalau ingin menulis, tapi hanya sebuah ingin menulis. Sebab itu, terus melatih diri menulis, adalah sebuah hal yang perlu dilakukan.

Kenapa harus menulis (lagi)? Tentu karena kita ingin bekerja untuk keabadian. Peduli, berbagi, dan ketulusan niatmu adalah bekerja untuk keabadian. Bahkan, sampai nafas tiada. Apabila niat kita baik, InsyaAllah tercatat kebaikan pula.

Adapun untuk kedepannya, kita disebut penulis atau bukan, karena konsistensi. Jangan sampai baru nulis satu, dua buku, lalu menyerah. Sebab itu niat-niat baik kita—secara tidak langsung akan mempengaruhi proses kedepannya. Memotivasi, meski lagi malas-malasnya.

"Penulis yang baik dilihat bukan dari sekarang. Tapi seberapa tahan banting kamu menghadapi konsisten menulis." (Tere Liye)


Teruslah menulis, lagi, dan lagi...

Tegal, 31 Agustus 2017

Jumat, 04 Agustus 2017

Sekotak Kekaguman




Back Cover :

Adalah cinta bukanlah sebuah permainan kata layaknya karya fiksi yang banyak dijejali imajinasi. Sebuah rasa pertama yang terasa saat kita membuka mata melihat dunia.

Adanya hati kita percaya akan hadirnya Tuhan adalah sebab cinta. Cinta tak bisa diproyeksikan layaknya naskah lakon yang dipentaskan dalam drama. .

Ada yang dengan kehadirannya bisa tertawa bahagia. Ada pula hati yang patah dan perasaan yang layu begitu memilih untuk menjalaninya. Konflik cinta terwujud karena sikap kita menyikapinya, akankah kita membiarkannya untuk tumbuh besar, atau hanya sekadarnya saja.

Tuhan, Ibu, Ayah, kekasih, ilmu pengetahuan, dan impian. Kepada siapakah kita akan benar-benar bertahan untuk menjalani kehidupan dengan cinta? Kepada siapakah kita akan mengadu saat keganasan cinta justru merenggut kebahagiaan? Bukan cinta yang salah, melainkan kita.

Semoga kita dipertemukan dengan cinta yang enggan membunuh kita.

Aamiin.
_____________________________________
Penulis : Siti Rokhanah, Ika Susilowati,
Humayra Faja Syams, Syahrul Romadhon,
Desi Nur Istanti, dkk

Penyunting : Tim Harasi
Tata Letak : S. Ellyka
Desain Sampul : Tim Harasi
ISBN : 978-602-6582-37-9

Harga: 45.000,-
Beli lima gratis ongkir. (Khusus Jawa)

Cetakan Pertama, Mei 2017.
Diterbitkan oleh
Penerbit : CV. Harasi

[Resensi] Memetik Hikmah dari Perjalanan Menebus Dendam

(sumber gambar: Republika)

Nama Buku     : SERUNI
Penulis             : Almas Sufeeya
Penerbit           : Republika
Cetakan           : I, Februari 2017
Tebal               : vi+ 239 halaman ; 13,5 x 20,5 cm
Blurb
Seruni tak menyesal meninggalkan segala hal yang menjadi tumpuan hidupnya selama bertahun-tahun di negeri sakura. Karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan menunda atau menunggu untuk bisa kembali ke Indonesia demi seseorang yang amat dirindukan. Meskipun harus menempuh jalan yang panjang, sukar, dan terjal. Ia siap menanggung segala konsekuensi asalkan bisa bertemu dengan orang itu.
***
Sinopsis
Novel beraroma jepang, kental terlihat saat pertama kali melihat covernya. Seorang wanita jepang dengan mawar besar di punggungnya. Mawar, simbolik bunga kesukaannya yang sama juga dengan nama Ibunya.
            Sejenak menelusuri penasaran, memang berkisah tentang gadis bernama Krisan alias Seruni yang tinggal di Jepang. Jauh hari rela pergi meninggalkan tumpuan hidupnya di negeri sakura itu, demi sebuah pencarian. Bertemu dengan kakak kandungnya, Aster.
            Sebuah konflik pelik telah memisahkannya. Konflik yang berbuah dendam hingga sebuah keputusan nekad terjadi. Seruni memilih pergi ke negeri Jepang. Bahkan, lewat cara yang begitu menyakitkan: menghilangkan jejak, dengan pura-pura telah meninggal dunia.
            Keputusan ayahnya yang menikah lagi dengan Devi, perlakuan Mama tirinya yang jahat, sukses membuatnya begitu dendam. Kebencian karena berpisah dari Ibu kandungnya, dan perlakuan jahat Mama Devi begitu membuat Seruni bertekad pergi dengan cara membuat rekayasa dengan seseorang bernama Taro, yang mana Taro sendiri anak dari mantan suami Devi. Taro pun mengajak Seruni menjalankan sebuah misi. Pura-pura meninggal, mengaburkan jejak dengan pergi ke negeri sakura itu. Berharap Devi akan merasakan hal sama. Sakit, kehilangan, dan sebagainya.
            Namun, dendam tetaplah dendam. Salah satu hal indikasi melakukan perbuatan jahat, pasti tidak tenang. Bertahun-tahun kejadian itu berlalu, sekuat apa pun Seruni menjalani aktivitasnya di Jepang, ia tak bisa menyembunyikan tangisnya. Tangis rindu pada Aster, Kakaknya. Hal itulah yang dirasakan Seruni. Tanpa sepengatahuan Taro, Seruni pun pergi ke Indonesia. Mencari keberadaan kakaknya, Aster.
            Banyak fakta dan lika-liku yang terjadi selama pencarian Aster oleh Seruni. Mulai dari bertemu Ana, yang begitu tulus sukarela membantunya. Bahkan menawarkan pekerjaan padanya, meski baru pertama kali bertemu. (Hal. 38). Perjumpaannya dengan Aster, sangat mengejutkan. Sangat berbeda. Aster kini adalah sosok yang anti sosial, tidak suka bicara, dan sering melamun sendiri. Juga perjumpaannya kembali dengan Mama Devi, serta hal-hal mengejutkan lain. Yang banyak mengajarkan kita, tentang bagaimana sikap terbaik dalam menghadapi masalah.
Kelebihan
Novel yang menyuguhkan aneka pelajaran hidup yang berharga. Bagaimana agar tetap semangat, menyikapi kehilangan sebenarnya. Karena, sejatinya, kehilangan yang sebenarnya adalah kehilangan semangat hidup (Hal. 86). Hidup juga harus tetap dijalani, sepelik apapun masalah yang dihadapi. "Setelah Mama nggak ada, aku belajar melewati hari demi hari tanpa orang yang paling aku cintai. Karena bagaimanapun hidup harus tetap dijalani." (Hal. 108)
            Kita juga dapat menemukan beberapa quote indah dan memotivasi, selain beberapa di atas. Yakni, "Cinta selalu menemukan jalan dengan kesungguhan hati. Kalau Kakak benar-benar serius mencarinya, pasti akan ketemu!" (Hal. 210) "Segelap apa pun hidup yang pernah dijalani, kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik selalu ada." (Hal. 232) Didukung cover novel yang unik, manis, pas menggambarkan novelnya.
Kekurangan
Hanya ada beberapa typo saja yang saya temui, yaitu:
Kata "adiknya", yang tertulis "adiknnya" (Hal. 136) dan kata "menyakitkan" yang tertulis dengan kata "meyakitkan." Dan menurut saya, alangkah lebih nyaman dibaca, kalau memakai font berbeda. Karena di font ini, huruf a dan o kadang salah baca. Karena menggunakan a latin, yang hampir menyerupai huruf o.

            Namun, di luar itu, tentu lebih banyak pelajaran hidup yang dapat kita selami dari kisah seruni. Memahami bagaimana menyikapi masalah, tidak menjadi pendendam, memaafkan orang lain dengan tulus, dan aneka hikmah lainnya yang memotivasi hidup kita lebih baik. Tentunya, sangat rekomendasi.

Menjadi Muslim yang Peduli Dakwah dan Pendidikan


Oleh: Siti Rokhanah



Tegal - Rektor Sekolah Tinggi Agama Islam STAI-PTDII Jakarta Utara, Dr. Ratono MA menyempatkan diri memberikan nasehatnya kepada sekelompok Mahasiswa dan Mahasiswi. Beliau memberikan nasehat singkat namun berkesan. Didengarkan seksama oleh Mahasiswa dan Mahasiswi yang tergabung dalam jamaah yang menamakan dengan Khayatun Nufus. Mereka adalah salah satu kelas prodi Pendidikan Agama Islam, fakultas Tarbiyah dari Sekolah Tinggi Agama Islam Bhakti Negara (STAIBN) Tegal.
Dr. Ratono MA ini menyampaikan tentang bagaimana menjadi generasi penerus di tengah krisis yang berkembang di Indonesia ini. Dimulai dari pengalamannya menjadi praktisi dakwah yang unik. Karena beliau sendiri tidak berlatar belakang pesantren. Histori singkatnya, beliau bukan seseorang yang sengaja dicetak jadi aktivis dakwah. Namun, kekuatan tekad dan rasa cintanya membuatnya mengarungi dunia yang mulia itu. Di antara beberapa temannya yang sudah dikader jadi pendakwah, bahkan hilang arah. Justru, melalui dirinya, Allah karuniakan amanah itu. Sebab inilah, menurutnya meyebut bahwa dakwah adalah anugerah.
Adapun beberapa hal yang patut disimpulkan dari nasehatnya selanjutnya yaitu:
Kalian sebagai mahasiswa terlebih yang berkecimpung di jalan pendidikan Islam, harus menguatkan tekad untuk berdakwah. Menyebarkan manfaat untuk sesama manusia karena Allah.
Senantiasa mengingat kembali bahwa Allah akan memuliakan derajat orang yang berilmu dengan beberapa derajat. Seorang Muslim hendaknya memegang kuat mementingkan betapa keutamaan mencari ilmu.
Allah sendiri yang sudah menerangkan dalam kalam-Nya Al- Mujadilah ayat 11.
"... Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat... "
Kiat untuk pribadi juga ditekankan untuk membentuk diri yang sholeh. Yaitu dengan menjaga sholat malam dan senantiasa menjaga tali ukhuwah atau persaudaraan sesama Muslim.
Namun, beliau pun menarik beberapa realita yang terjadi di negeri ini. Sehubungan dengan betapa peran Muslim terutama pemuda Islam dalam berjuang. Yakni dipaparkannya realita yang tak dapat dinafikan lagi. Negeri ini sudah sangat dicengkeram kapitalisme, komunisme, dan isme-isme lain yang bertentangan dengan Islam. Tak dapat dipungkiri juga sangat merugikan bangsa ini. Sebab itu, kita sebagai Muslim harus menegaskan diri dimana posisi kita. Karena dengan merebaknya paham-paham liberal, komunis, dan kapitalis itu, setidaknya nampaklah beberapa karakter yang sangat berbahaya. Yaitu karakter manusia munafik. Banyak srigala berbulu domba. Masuk berkulit pendakwah namun dibelakangnya memperjuangkan liberalisme, mendukung kaum kapitalis. Kita sekarang tak hanya harus menjadi generasi yang baik.

Generasi kita ini juga harus kritis menanggapi hal-hal itu. Serta mengambil peran yang benar sesuai perintah Allah. Tak lain, salah satunya adalah memahami pentingnya pendidikan sebagai aspek yang sangat krusial untuk kemajuan diri manusia dan peradaban Islam. Sebab dakwah dan pendidikan adalah dua sinergi yang sangat berkaitan. Harus tersinergi dengan baik karena memperjuangkan yang benar: sesuai apa yang Allah perintahkan dan bermanfaat luas bagi umat manusia.

Kedokansayang, Juli 2017