(dimuat dalam Haluan, 25 Februari 2017)
Aku tidak tahu kenapa di
dunia ini ada saja orang yang begitu menyebalkannya. Sibuk mengomentari orang
lain, seakan-akan dirinya paling sempurna sedunia. Tentu sempurna menurut
egonya. Apalagi hanya karena penampilan fisik seseorang, dan keseperti ituan.
"Kakak, Amira takut. Malu.
Sepertinya mesti kembali ke pakai celana jeans dan kaos biasa aja deh. Gak
perlu pakai kerudung gede kegini." Timpanya pada Nanda, Kakak perempuan
satu-satunya.
"Memang kenapa, Dek?"
"Tadi di ledekiin temen-temen
dibilang gak gaul. Ribet. Masa mau main pakai rok, kata mereka, Kakak. Aku
malu. Segeng cuma aku yang pakai rok dan kerudung, Kak. Kayanya mesti berubah,
deh." Bibirnya makin mengerosi.
"Yasudah, besok adek pakai
gamis aja, gak usah pakai, rok. Ok?"
"Hah?"
"Iya, katanya mau
berubah?"
"Tapi... itu bukannya
malah?"
"Udah, nurut aja. Kakak lebih
pengalaman darimu, Dek."
***
Bel pulang bak hujan
yangsudah dinanti selama musim kemarau. Seketika siswa-siswi berbaju putih biru
itu berbondong keluar dari masing-masing kelas. Ada yang langsung ke gerbang
menemui Ayahnya yang sudah menjemput, ada yang langsung ke parkiran, ada pula
yang masih di kelas. Duduklah termenung di pojok paling belakang seorang siswi
SMP berkerudung putih yang dijulurkan sampai dada. Tak berapa lama, datang
beberapa teman segengnya meruntuhkan lamunananya.
"Eh, Ra. Lu mau ikut kan nanti
jam 3 sore? Ke mall. Hangout lah. Skalian nyari buku UN. Nanti kita ajak ke
toko boneka yang pernah lu pengen kemarin, deh. Ayo, ikut ya. Jangan lupa, gak
usah sok pake kerudung. Ini sekolah negeri, Ra. Bukan pesantren."
Tak menjawab pertanyaan yang lebih
mirip interogasi itu, Amira pun segera mengemasi buku-buku yang masih di atas
meja dan menaruhnya di tas.
"Maaf, ya aku harus segera
pulang. Nanti tak kabari lagi lewat BBM. See you!"
"Eh?" Mia, teman
berpenampilan tomboy itu menaruh muka sangat heran.
"Kenapa dia, gitu?"
"Gak tau. Mugkn emang
benar-benar ada penting." Nia menimpali.
***
Bruggg!!
Tas dilemparnya begitu saja di sofa
ruang tamu. Sambil mendesiskan suaranya.
"Aduh... gimana ini."
"Eh, Adik, kenapa? Tumben
pulang-pulang langsung tepar gitu? Ganti baju dulu gih."
"Kak, Amira bingung banget.
Nanti jam tiga sore mau jalann-jalan ke mall, mau nyari buku juga. Tapi lebih
pengin boneka sih."
"Trus? Sama teman-temankan?
Masih seGeng itu, kan?"
"Nah, itu masalahnya, Kak.
Mia, salah satu gtemen di geng itu, ngelarangku pakai rok, kerudung, apalagi
gamis, yang Kakak sarankan." Gerutunya sebal.
"Pakai saja gamisnya, Dek.
Asal kamu tau, Dek. Bukan Kakak yang perintahin. Tpi yang menciptakan kita.
Nanti Amira baca buku di meja belajarmu, Deh. Kaka belikan buku bagus
untukmu."
***
Sekitar lima belas menit
Amira terkesima dengan buku yang ia temui di meja belajarnya. Buku yang berisi
panduan-panduan kemuslimahan. Salah satu di sana adalah kewajiban berhijab.
"Astaghfirulloh, berarti
selama ini, aku belum apa-apa?" Lirihnya.
Beberapa jam kemudian, ia sudah
berdiri di depan cermin. Mengenakan pakaian gamis merah muda, lengkap dengan
keurudung hitam dengan aksen warna pink di tepinya.
"Bismillah, ya Allah.
Mudah-mudahan Amira bisaa." Mudh-mudahan melaului menutup aurat seepeti
ini, menjadi awal Amira menjad ibaik sesuai pandangan-Mu." Lirihnya.
***
"Hah? Ini kamu, Ra? Kamu sehat?"
seru Nia, teman seGeng yang suka semua tentang korea itu.
"Kamu mau ngaji kemana, Ra?
Kamu gak lupa kan? Kita mau ke mall. Skalian nyari buku buat persiapan UN, Ra.
Kamu yakin, pake begituan?" Tanya Nita.
Amira hanya tersenyum menjawab
pertanyaan teman-temannya itu, yang lebih mirip penghinaan baginya. Hingga
muncul suara yang seketika meruntuhkan bulir-bulir air mata yang sedari tadi
sudah tertabir oleh senyum.
"Oh, jadi gini anak baru gede
yang sok suci ini? Ngapain sih kamu pakai hijab gombrong kek gitu? Lu masih
banyak salah! masih belum baik! Gak usah lah sok baik!"
"Ok, gini aja. Sekarang lu
pilih mau tetep jadi temen kita, dengan syarat ganti baju pakai biasa aja, atau
lu gak usah main bareng The Hitz lagi. Kamu bebas!! Enyahlah bersama gamis
gombrongmu!" Mia mencemooh dengan Amira dengan muka berapi-api.
Tak tertahankan lagi. Seketika
Amira nangis. Tanpa mengucap satu kata pun. Ia membalikkan tubunya dari
teman-temannya. Beberapa detik kemudian memilih menjauh dari mereka. Pergi.
Pulang.
***
"Assalamualaikum..."
"Waalaykumasalam, kenapa, Dek?
Matamu itu? Teman-teman gengmu lagi?"
Amira tak menjawab pertanyaan dari
Kakaknya. Seketika duduklah ia di sofa ruang tamu.
"Ayo, ceritain kenapa?"
"Amira gak jadi pergi
bareng-bareng temen, Kak. Mereka lagi-lagi menghinaku. Bilang sosk suci lah,
masih belum baik perilakunya lah, dan sudah kuduga, Kak mereka sangat benci
dengan penampilanku."
"Sudah, jangan sedih. Ini
belum apa-apa, di luar sana masih banyak Muslimah yang berjuang lebih keras
dari pada kamu, Dek. Bahkan ada yang sampai rela mati hanya untuk
mempertahankan hijabnya."
"Benarkah, Kak?"
"Iya. Kamu tau Ustadzah Irena
Handono? Beliau muallaf yang saat memutuskan masuk Islam, dan keluarganya tau,
ia diusir. Kamu masih beruntung tidak demikian, Dek. Masih ada keluarga utuh
yang sangat menyayangimu."
"Ada lagi di Palestina, Dek.
Tentara Zionis dengan kejamnya menembak mati seorang Muslimah yang menutup
aurat dengan hijabnya. Tentara Zionis yang lebih mirip monster terkejam di
dunia itu, Dek. Kamu nanti bisa lihat videonya di Hp Kakak."
"Astaghfirulloh, Maafin
Amira.'
"Kamu tahu kenapa Kakak tetap
bersikeras menyuruhmu menutup aurat begini?"
"Apa, Kak?"
"Selain karena kamu sudah
baligh dan itu suatu kewajiban untuk taat, suatu masa nanti di akhirat, Kakak
takut ditanya kenapa membiarkan saudaranya sendiri berpakaian jahiliyah."
"Kakak... ." Amira
seketika memeluk Kakaknya erat.
"Semoga kamu mengeerti, Dek.
Adapun terhadap omongan-omongan sinis teman-temanmu itu, anggap saja seperti
camilan yang membosankan. Lambat laun kau akan bosan dan menerima itu, Dek. Gak
akan gampang nangis lagi, kalau dicaci. Sanggup berjuang memela Agamamu.
InsyaAllah, Allah mengirimkan teman-teman yang jauh lebih baik dari The Hitz
itu."
"Aamiin... "
-SELESAI-
