Pages

Sabtu, 18 Maret 2017

[CERMA] Kehormatan




(dimuat dalam Haluan, 25 Februari 2017)
Aku tidak tahu kenapa di dunia ini ada saja orang yang begitu menyebalkannya. Sibuk mengomentari orang lain, seakan-akan dirinya paling sempurna sedunia. Tentu sempurna menurut egonya. Apalagi hanya karena penampilan fisik seseorang, dan keseperti ituan.
            "Kakak,  Amira takut. Malu. Sepertinya mesti kembali ke pakai celana jeans dan kaos biasa aja deh. Gak perlu pakai kerudung gede kegini." Timpanya pada Nanda, Kakak perempuan satu-satunya.
            "Memang kenapa, Dek?"
            "Tadi di ledekiin temen-temen dibilang gak gaul. Ribet. Masa mau main pakai rok, kata mereka, Kakak. Aku malu. Segeng cuma aku yang pakai rok dan kerudung, Kak. Kayanya mesti berubah, deh." Bibirnya makin mengerosi.
            "Yasudah, besok adek pakai gamis aja, gak usah pakai, rok. Ok?"
            "Hah?"
            "Iya, katanya mau berubah?"
            "Tapi... itu bukannya malah?"
            "Udah, nurut aja. Kakak lebih pengalaman darimu, Dek."
***
Bel pulang bak hujan yangsudah dinanti selama musim kemarau. Seketika siswa-siswi berbaju putih biru itu berbondong keluar dari masing-masing kelas. Ada yang langsung ke gerbang menemui Ayahnya yang sudah menjemput, ada yang langsung ke parkiran, ada pula yang masih di kelas. Duduklah termenung di pojok paling belakang seorang siswi SMP berkerudung putih yang dijulurkan sampai dada. Tak berapa lama, datang beberapa teman segengnya meruntuhkan lamunananya.
            "Eh, Ra. Lu mau ikut kan nanti jam 3 sore? Ke mall. Hangout lah. Skalian nyari buku UN. Nanti kita ajak ke toko boneka yang pernah lu pengen kemarin, deh. Ayo, ikut ya. Jangan lupa, gak usah sok pake kerudung. Ini sekolah negeri, Ra. Bukan pesantren."
            Tak menjawab pertanyaan yang lebih mirip interogasi itu, Amira pun segera mengemasi buku-buku yang masih di atas meja dan menaruhnya di tas.
            "Maaf, ya aku harus segera pulang. Nanti tak kabari lagi lewat BBM. See you!"
            "Eh?" Mia, teman berpenampilan tomboy itu menaruh muka sangat heran.
            "Kenapa dia, gitu?"
            "Gak tau. Mugkn emang benar-benar ada penting." Nia menimpali.
***
Bruggg!!
            Tas dilemparnya begitu saja di sofa ruang tamu. Sambil mendesiskan suaranya.
            "Aduh... gimana ini."
            "Eh, Adik, kenapa? Tumben pulang-pulang langsung tepar gitu? Ganti baju dulu gih."
            "Kak, Amira bingung banget. Nanti jam tiga sore mau jalann-jalan ke mall, mau nyari buku juga. Tapi lebih pengin boneka sih."
            "Trus? Sama teman-temankan? Masih seGeng itu, kan?"
            "Nah, itu masalahnya, Kak. Mia, salah satu gtemen di geng itu, ngelarangku pakai rok, kerudung, apalagi gamis, yang Kakak sarankan." Gerutunya sebal.
            "Pakai saja gamisnya, Dek. Asal kamu tau, Dek. Bukan Kakak yang perintahin. Tpi yang menciptakan kita. Nanti Amira baca buku di meja belajarmu, Deh. Kaka belikan buku bagus untukmu."
***
Sekitar lima belas menit Amira terkesima dengan buku yang ia temui di meja belajarnya. Buku yang berisi panduan-panduan kemuslimahan. Salah satu di sana adalah kewajiban berhijab.
            "Astaghfirulloh, berarti selama ini, aku belum apa-apa?" Lirihnya.
            Beberapa jam kemudian, ia sudah berdiri di depan cermin. Mengenakan pakaian gamis merah muda, lengkap dengan keurudung hitam dengan aksen warna pink di tepinya.
            "Bismillah, ya Allah. Mudah-mudahan Amira bisaa." Mudh-mudahan melaului menutup aurat seepeti ini, menjadi awal Amira menjad ibaik sesuai pandangan-Mu." Lirihnya.
***
            "Hah? Ini kamu, Ra? Kamu sehat?" seru Nia, teman seGeng yang suka semua tentang korea itu.
            "Kamu mau ngaji kemana, Ra? Kamu gak lupa kan? Kita mau ke mall. Skalian nyari buku buat persiapan UN, Ra. Kamu yakin, pake begituan?" Tanya Nita.
            Amira hanya tersenyum menjawab pertanyaan teman-temannya itu, yang lebih mirip penghinaan baginya. Hingga muncul suara yang seketika meruntuhkan bulir-bulir air mata yang sedari tadi sudah tertabir oleh senyum.
            "Oh, jadi gini anak baru gede yang sok suci ini? Ngapain sih kamu pakai hijab gombrong kek gitu? Lu masih banyak salah! masih belum baik! Gak usah lah sok baik!"
            "Ok, gini aja. Sekarang lu pilih mau tetep jadi temen kita, dengan syarat ganti baju pakai biasa aja, atau lu gak usah main bareng The Hitz lagi. Kamu bebas!! Enyahlah bersama gamis gombrongmu!" Mia mencemooh dengan Amira dengan muka berapi-api.
            Tak tertahankan lagi. Seketika Amira nangis. Tanpa mengucap satu kata pun. Ia membalikkan tubunya dari teman-temannya. Beberapa detik kemudian memilih menjauh dari mereka. Pergi. Pulang.
***
            "Assalamualaikum..."
            "Waalaykumasalam, kenapa, Dek? Matamu itu? Teman-teman gengmu lagi?"
            Amira tak menjawab pertanyaan dari Kakaknya. Seketika duduklah ia di sofa ruang tamu.
            "Ayo, ceritain kenapa?"
            "Amira gak jadi pergi bareng-bareng temen, Kak. Mereka lagi-lagi menghinaku. Bilang sosk suci lah, masih belum baik perilakunya lah, dan sudah kuduga, Kak mereka sangat benci dengan penampilanku."
            "Sudah, jangan sedih. Ini belum apa-apa, di luar sana masih banyak Muslimah yang berjuang lebih keras dari pada kamu, Dek. Bahkan ada yang sampai rela mati hanya untuk mempertahankan hijabnya."
            "Benarkah, Kak?"
            "Iya. Kamu tau Ustadzah Irena Handono? Beliau muallaf yang saat memutuskan masuk Islam, dan keluarganya tau, ia diusir. Kamu masih beruntung tidak demikian, Dek. Masih ada keluarga utuh yang sangat menyayangimu."
            "Ada lagi di Palestina, Dek. Tentara Zionis dengan kejamnya menembak mati seorang Muslimah yang menutup aurat dengan hijabnya. Tentara Zionis yang lebih mirip monster terkejam di dunia itu, Dek. Kamu nanti bisa lihat videonya di Hp Kakak."
            "Astaghfirulloh, Maafin Amira.'
            "Kamu tahu kenapa Kakak tetap bersikeras menyuruhmu menutup aurat begini?"
            "Apa, Kak?"
            "Selain karena kamu sudah baligh dan itu suatu kewajiban untuk taat, suatu masa nanti di akhirat, Kakak takut ditanya kenapa membiarkan saudaranya sendiri berpakaian jahiliyah."
            "Kakak... ." Amira seketika memeluk Kakaknya erat.
            "Semoga kamu mengeerti, Dek. Adapun terhadap omongan-omongan sinis teman-temanmu itu, anggap saja seperti camilan yang membosankan. Lambat laun kau akan bosan dan menerima itu, Dek. Gak akan gampang nangis lagi, kalau dicaci. Sanggup berjuang memela Agamamu. InsyaAllah, Allah mengirimkan teman-teman yang jauh lebih baik dari The Hitz itu."

            "Aamiin... "
-SELESAI-