Pages

Jumat, 22 Desember 2017

[CERNAK] Menemani Adik ke Warung


(Dimuat di Joglo Semar, 12 November 2017)
Oleh: Siti Rokhanah

Jam istirahat sekolah Dila sudah tiba. Dila pun bersegera pulang ke rumah, karena lupa tidak membawa uang saku. Dila yang sekolah di salah satu SD Negeri di Kota Tegal pun segera berlari pulang.
            "Assalamualaykum, Bu. Dila mau ambil uang saku. Tadi pagi lupa belum diambil."
            "Waalaykumsalaam, Kalau sudah, kesini, Nak. Temani Adikmu dulu, ya. Beli jajan di warung Bu Inah."
            "Tapi, Bu? Dila kan mau ke sekolah lagi."
            "Sebentar saja. Kasihan Adikmu, Ikko. Daritadi nangis pengin beli jajan. Ibu lagi masak, takut gosong kalau ditinggal."
            "Iya, deh. Buruan, Dik."
            "Hati-hati, Nak. Nanti antarin lagi Ikko pulang. Jangan ditinggal."
            "Iya, Bu. Dila pergi dulu. Yuk, Dik!"
***
            "Ikko mau beli jajan apa? Ini?" Nana bertanya ke Adiknya, sambil menunjukkan snack yang dimaksud.
            "Apa mau kue coklat aja?"
            Ikko menggeleng lagi.
            "Terus mau apa? Yang mana? Cepetan!" Dila mulai kesal.
            Ibu Inah, pemilik warung pun dari awal sudah menawarkan aneka snack, bolu, sampai minuman. Tapi ditolak Ikko.
            "Ikko mau sama seperti yang di iklan tadi. Bukan yang itu." Ikko mulai merengek karena dibentak Kakaknya.
            "Kakak tidak tahu tadi Ikko lihat iklan apa. Yang ada di sini saja, cepetan!"
            "Atau... Kakak tinggal nih?"
            Ikko malah menangis kencang.
            "Yasudah, Kakak tinggal!" Dila pun berlari kembali ke sekolahnya, karena takut bel masuk sudah tiba.
            "Ayo, Ikko masuk saja dulu di rumah Bu Inah. Duduk atau berbaring di kursi sana dulu ya, Nak. Jangan nangis. Cup... Cup..."
            Ikko hanya menganggug dan duduk di kursi ruang tamu Bu Inah. Tak sadar, dia pun mengantuk, lalu tertidur.
***
            "Assalamualaykum, Bu. Dila pulang."
            "Waalaykumsalaam, Dila. Dila meninggalkan Ikko di mana? Kenapa tidak diajak pulang dulu?"
            "Hm... Dila takut sudah bel masuk sekolah, Bu. Jadi Dila tinggalin Ikko di warung Bu Inah. Maafin Dila, Bu."
            "Dila... lain kali tidak boleh begitu lagi ya, Nak. Ibu sangat cemas mencari Ikko tadi, Nak."
            "Tapi Ikko sudah pulang kan, Bu?"
            "Alhamdulillah, sudah. Bu Inah yang mengantarkannya ke sini. Katanya sempat tertidur di rumahnya. Terus terbangun, dan minta pulang. Kasihan Bu Inah, jadi merepotkannya."
            "Nak, Ikko kan masih kecil. Belum paham jalan. Kamu sebagai Kakaknya harus menjaga dia dengan baik." Ibu Dila menasehati dengan lembut.
            "Maaf, Bu. Habisnya, Dila kesal. Ikko rewel banget di warung. Ditawarin ini, itu, tidak mau."Dila menjawab dengan ekspresi sebalnya.
            "Dila, Ibu kan sudah bilang. Adikmu masih kecil. Dia juga belum paham benar, mana yang baik dan tidak. Makanya, kamu sebagai Kakaknya harus mencontohkan yang baik. Harus bertanggung jawab menjaganya. Bukan meninggalkannya."
            "Iya, Bu. Maafkan Dila. Dila istirahat dulu, ya."
            Sejak kejadian itu, Dila lebih memahami Adiknya. Membuatnya tertawa, saat Adiknya mulai sebal. Menemaninya bermain, membeli jajan, dan melindungi Ikko. Tidak ingin meninggalkan Adiknya lagi sendirian. Dila ingin menjadi Kakak yang bertanggung jawab.

-SELESAI-

[CERNAK] Nana Belajar Bertanggung Jawab

(Dimuat di Joglo Semar, 13 Agustus 2017)
Oleh: Siti Rokhanah

            Hari itu, sekolah libur. Nana, yang bersekolah di salah satu SD Negeri di kota Tegal pun berencana ke rumah temannya.
            "Ibu, Nana pamit, ya. Mau main ke rumah Suci dulu. Assalamua'alaikum." Nana mencium punggung telapak tangan Ibunya.
            "Wa'alaikumsalam. Iya, hati-hati, Sayang." Ibunya tersenyum.
Sesampainya di rumah Suci, ada Kakak Suci. Namun, mereka berdua terlihat saling tak menyapa, seperti habis bertengkar. Kakak Suci pun yang mempersilahkan Nana masuk.
            "Suci, habis bertengkar, ya?" Nana bertanya antusias, melihat ekspresi Suci yang sedih. Namun, Suci hanya diam.
            "Suci, Kita main aja yuk. Apa ya enaknya? Yang seru! Biar kamu jangan cemberut terus." Nana tersenyum lebar melihat Suci yang mengelap air mata.
            "Main apa aja terserah, Nana." Jawabnya singkat.
            "Gimana kalau petak umpet?"
            "Jangan, ah! Suci penginnya yang duduk aja di sini."
            "Yasudah, kita main tebak nama buah-buahan aja. Sesuai huruf abjad, gimana?"
            "Nanti yang tidak bisa nebak, dicubit." Nana antusias sekali menjelaskan. Lalu segera meletakkan jari-jari telapak tangannya ke tanah. Siap untuk bermain.
            "Hm... Iya, deh. Nana yang mandu aja."
Tangan Suci pun segera menyiapkan jari-jarinya untuk dihitung. Sampai akhirnya, Nana berhenti menghitungnya.
            "A, B, C, D! Delima!" Teriak Nana.
            "Yey! Suci kalah. Sini tangannya!" Nana menarik tangan Suci dan mencubitnya segera.
            "Aww!! Aduh, sakit, Nana! Kakaaak!!" Suci teriak histeris.
            Nana bingung, sekaligus kaget mendengar reaksi Suci. Dia pun segera lari dan pulang tanpa pamit.
***
            "Kamu kenapa, Nak? Kenapa lari-lari?" Ibu Nana heran melihat anaknya berlari dan terlihat sangat cemas.
            "Tidak apa-apa, Bu. Nana cuma pengin buru-buru istirahat. Nana masuk dulu ya, Bu."
            "Dimana Nana, Bu? Dia sudah bikin Suci nangis, Bu." Syifa, Kakak Suci mendatangi rumah Ibunya Nana dengan sangat kebal.
            "Ada apa ini, Syifa? Ayo masuk dulu ke rumah. Silahkan duduk." Ibu Nana semakin terheran.
            "Nana... Kemari, Nak. Ada Suci, nih." Ibunya memanggil Nana dari ruang tamu. Namun Nana masih ketakutan. Dia pun pura-pura berbaring di kamarnya.
            "Nana... Ayo, kesini, Nak."
            Akhirnya, Nana pun keluar menemui mereka. Wajahnya terlihat sangat takut. Apalagi Kakak Suci yang terkenal galak itu yang menemui Ibu. Nana mendekat ke tempat duduk Ibunya.
            "Nak, Apa benar Nana yang nyubit Suci sampai nangis?" Ibu Nana bertanya.
            Nana hanya membalas dengan anggukan kecil.
            "Nana sekarang minta maaf ke Suci. Ayo, bilang tidak akan mengulanginya lagi."
            Nana pun mendekat ke Suci dan mengulurkan tangannya.
            "Maafin Nana ya, Suci. Nana tidak bermaksud membuat Suci nangis."
            Suci hanya mengangguk.
            "Nak, lain kali jangan begitu, lagi, ya. Ibu tidak ingin anak Ibu nakal dan tidak mau bertanggung jawab dari perbuatannya. Kalau berbuat salah, harus berani bertanggung jawab. Nana paham, kan?"
            "Iya, Bu. Nana tidak akan mengulanginya lagi. Nana akan belajar bertanggung jawab." Nana tersenyum lega.

-SELESAI-