Pages

Senin, 30 September 2019

Menumbuhkan Literasi Dari Keluarga Untuk Negeri



Oleh: Siti Rokhanah

(doc. pinterest.com)

Kita tak dapat memungkiri, era digital kian membawa berbagai efeknya. Salah satunya dalam hal literasi. Hari ini, orang lebih mudah mengakses media sosial, daripada membuka buku dan membaca. Kemudahan akses memang turut mendukungnya. Namun ada hal lain yang juga mendukung kebiasaan itu, yakni lingkungan.
Keluarga, menjadi lingkungan pertama dimana anak akan bertumbuh kembang. Bagaimana membangun lingkungan yang peka literasi di era kini? Beberapa hal berikut ini dapat menjadi sarana membenahi diri:
Pertama, Bangun Kecintaan Membaca dari Orangtua
Bagaimana mungin, akan mengajak anak membaca, kalau dari orangtuanya tidak suka membaca? Sejarah mencatat berbagai tokoh hebat, lahir dari keluarga yang juga membudayakan literasi sejak dini dalam keluarganya. Salah satunya adalah Soe Hok Gie. Pemuda revolusioner, yang tumbuh dari seorang Bapak jurnalis. Sejak kecil sudah membaca berbagai buku. Kecintaanya terhadap buku, membawanya membaca berbagai hal. Termasuk buku-buku ideologi yang mungkin, kebanyakan kita di usia dewasa belum tentu sudah membacanya. Seperti buku Lenin, Karl Max, dan sebagainya. Gie kecil, sudah melahap berbagai menu bacaaan.
Kedua, Mengajak Anak Mencintai Membaca
Setelah orangtua membangun dirinya gemar membaca, anak akan melihat kebiasaan-kebiasaan yang melekat pada orangtua. Bila orangtuanya suka membaca, akan memperbesar pula peluang anak akan penasaran, dan turut serta ikut membaca. Sehingga kecintaan membaca akan lebih mudah tersalurkan.
(doc. isipii.org)

Ketiga, Menyediakan Fasilitas Literasi Keluarga
Salah satu upaya yang dapat dilakukan setelah anak mulai ada rasa mencintai membaca, orangtua dapat melakukan hal selanjutnya. Yakni menyediakan fasilitas membaca. Contohnya menyediakan perpustkaan khusus keluarga. Dimana berbagai buku dapat dinikmati kapan saja. Bahkan, lebih bagus, kalau mampu menyediakan sebuah rumah baca umum. Yang di dalamnya akan dapat menyediakan ruang lebih unuk tak sekedar membaca. Tapi sudah melangkah ke ranah yang lebih luas lagi. Bersentuhan dengan masyarakat. Hal ini memang tidak mudah dilakukan begitu saja. Tapi bisa pelan-pelan mengupayakannya. 
Penulis sendiri, sedang dalam upaya membangun sebuah rumah baca kecil-kecilan. Berawal dari buku-buku pribadi yang sudah cukup banyak, dan ingin terkelola dengan baik dan bermafaat lebih, maka ditaruhlah di rak khusus. Sengaja diletakkan di ruang tamu, agar orang lain bisa membacanya. Meski jangkauannya masih kecil, seperti keponakan dan teman-teman sendiri, tapi setidaknya ini sebuah langkah unatuk tak sekedar mencintai membaca. Tapi bagian dari berupaya mencuacakan lingkungan masyarakat yang juga melek literasi. Sebab bagaimanapun, ketika anak sudah tumbuh, ia akan berhadapan dengan masyarakat. Bukan sekedar membaca dari keluarga. Namun, lingkungannya tak mendukung untuk itu.
Keempat, Pengembangan dan Berkelanjutan
Setelah dibuat sebuah fasiltas agar orang mudah mengakses bacaan, selanjutnya yang lebih berat adalah memikirkan pengelolaannya. Bagaimana mengembangkannya. Mendirikan rumah baca cenderung lebih mudah, daripada mempertahankannya. Maka, perlu berbagai inovasi dan upaya. Salah satunya dengan bergabung bersama pegiat literasi lainnya. Seperti halnya di Tegal, ada komunitas dari berbagai rumah baca. Kita bisa masuk dan berbagi info apa saja terkait literasai, selain sebagai upaya untuk mengembangkannya. 
Belajar bersama bagaimana sebuah rumah baca dapat lebih bermanfaat untuk masyarakat sekitarnya. Seperti halnya, misalnya dengan mengadakan kegiatan mewarnai untuk anak-anak selama beberapa pekan sekali. Ini akan melatih anak dan masyarakat tak sekedar mencintai membaca. Tapi juga membaca lingkungan. Peka terhadap sosialnya. Sedangkan untuk orang dewasa, kita bisa gunakan untuk berbagai kegiatan yang menunjang keilmuan. Seperti diskusi rutinan, nobar film, bedah buku, dan lainnya. Yang mana berbagai kegiatan tersebuat merupakan hal yang sangat terkait sebagai upaya mewujudkan literasi yang tak hanya tumbuh dan berkembang di keluarga. Tapi juga menghidupkannya dalam lingkungan masyarakat. Sehingga diharapakan bukan hanya menjadi langkah remeh, namun ini sebuah upaya yang dapat kita lakukan untuk mencerdaskan bangsa. Bahwa lewat keluarga yang membangun cuaca literasi, dapat jadi langkah untuk membangun negeri.

#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga


Catatan: Tulisan ini diikutkan dalam lomba blog pendidikan keluarga yang diadakan KemDikBud.

Kamis, 17 Januari 2019

Mengendalikan Emosi Anak Vs Orangtua



(Smart Parenting SD Muhammadiyah Slawi)

Emosi Anak dan Orangtua, adalah tajuk yang dikupas oleh Dra. Mahyi Din Ilyas, dari Yayasan Buah Hati Tanggerang.
 Acara yang diselenggarakan untuk seluruh walimurid siswa SD Muhammadiyah Slawi itu berjalan lancar. Para walimurid antusias mengikuti acara sampai berakhir. Dialog antara narasumber dan orangtua pun sangat interaktif.

Karena topik yang dibahas juga memang sangat dekat, ini jadi rasa antusiasme yang melekat. Berbagai hal berusaha Dra. Mahyi berbagi bersama dengan para Orangtua. Dari pengenalan dunia anak sebenarnya, kesalahan-kesalahan yang sering orangtua lakukan--yang jadi buah penyesalan, sampai ke mengenal emosi dan bagaimanana mengendalikannya secara bijak.

"Dunia anak adalah dunia bermain, biarkan ia tumbuh dengan porsi mainnya tanpa terlalu dibebani mata pelajaran yang memberatkannya." Tukas pengantar kala itu. Melalui ini, ada beberapa hal yang perlu sama-sama dibenahi orangtua.
Bahwa otak anak berbeda. Begitu pula caranya memposisikan diri. Jangan sampai, ketika dewasa ia menjadi manusia dewasa yang kekanak-kanakkan. "Bapak-Ibu pernah melihat ada menteri yang sampai lempar meja? Nah itu adalah contoh bentuk sifat kekanak-kanakam yang belum selesai, pada masa ia anak-anak. Jadilah, dewasa yang kekanak-kekanakan." Tukas Dra Mahyi.

Dalam hal ini, dunia anak belum mengerti benar tentang pengenalan diri, perasaan, dan motoriknya. Sebagai ulasan, dapat disimak contoh sederhananya:

"Saat anak pulang, tiba-tiba marah-marah sambil banting tas, dan nangis."
Nah, sebagai orangtua, kita perlu mengenalkan perasaan padanya dengan bertanya:
"Adek kenapa? Kesel ya di sekolah? Marah? Atau laper?"

Ternyata ngangguk, saat Ibunya bertanya lapar. Tersebab apa? Anak belum tau pengendalian diri terhadap dirinya. Sekaligus pengenalan perasaan padanya. Orangtua disini, langsung memberi makan, selesai. Bukan dengan ikut mengomelinya, bahkan memarahinya tanpa jeda.
Sedangkan dalam pelatihan motoriknya juga perlu. Anak belum sekuat apa yang orangtua bisa. Jadi saat anak Ibu diperintah membawa piring misalnya, ya g terlalu banyak kemudian pecah, jangan memarahinya. Tersebab kitalah yang kurang memahaminya.

Beberapa hal kesalahan yang seringkali orangtua lakukan adalah beberapa hal ini:

Bicara terges
a
Mau sebagus apapun nasihat, kalau disampaikan secara tidak tepat. Asal bunyi seperti laju kendaraan, pun tidak akan masuk ke anak. Ini justru jadi hal yang membosankan.
Tidak kenal diri sendiri
Lupa: setiap indivudu UNIK

Tidak perlu membandingkan anak sendiri dengan lainnya. Karena setiap anak itu unik.
Perbedaan Need and Wants

Orang tua harus mempu mengarahkan anak ke dalam mana saatnya membeli sesuatu dan mana saatnya tidak membelinya langsung. Sebagai pembeda, dari upaya pengenalan mana kebutuhan dan mana keinginan.
Tidak membaca bahasa tubuh

Orangtua harus peka terhadap bahasa tubuh anak. Anak pendiam belum tentu memang pendiam. Barangkali ia yang sangat gemar bercerita lewat tulisannya, dsb. Jadi, agar lebih bijak mengarahkannya.
Tidak mendengar perasaan

Seringkali orangtua tak begitu mendengar perasaan anak. Anak juga perlu didengar, ditemani, dsb. Apalagi di era milenial yang rentan terlenakan gadget.
Kurang mendengar aktif

Tak jarang, orangtau pun kurang bisa memahami keaktifan anak.
12 Gaya populer

1. Memerintah
Orangtua disini, selalu memerintahkan anaknya. Tiap hari isinya perintah terus. Sesekali, gunakan kata lain yang lebih tidak mengesankan otoriter. Seperti kata tolong, dsb.
2. Menyalahkan
Pun disini, kesalahan yang seringkali tak disadari adalah selalu menyalahkan anak. Terbayangkah kita? Kalau dalam sehari, anak disalahkan terus bahkan oleh anghota keluarga lainnya? Strrsslah anak.
3. Meremehkan
"Ahh... gitu saja nda bisa." Dan kalimat-kalimat lain yang meremehkan anak, sebaiknya tak dilakulakan.
4. Membandingkan
Terlebih selalu membanding-bandingkqn kemampuan anak. Ini akan sangat menekan mental anak. Anak akan merasa ia tak diharapkan--dibutuhkan.
5. Mencap/label
"Dasar! Anak nakal! Dasar, pemalas!" Dan berbagai cap buruk lain, yang kerap kali orangtua lakukan, sangat tak mendukung pwrkembangan anak. Kalau kita mengecap/menstampel anak kita dibajunya, mungkin dengan dicuci akan selesai bersih. Tapi saat yang amat terluka jiwanya? Sampai dewasapun, bahkan seumur hidupnya, belum tentu ia bisa menyembuhkan lukanya. Pernah kita dengar orang yang bilang ke orangtuanya,
6. Mengancam
Ancaman, pun sebaikanya jangan terlalu dibebani ke anak.
7. Menasehati
Pun menasehati, harus tau posisi. Saat anak sedang sedih, jangan dinasehati terlebih dahulu. Kalau ia menangis, biarkan dulu. Baru saat ia pulih, sudah normal moodnya, nasehat itu akan lebih masuk padanya.
8. Membohongi
"Bu, Adeek jatuh!" "Yaudah, ntar juga sembuh." "Bu, sudah ntar tapi ko ga sembuh?" "Paling besok juga sembuh, dek." "Sudah besok, Bu. Tapi ko ga sembuh juga?" Itu hanya scene kecil, orangtua yang membohongi anaknya. 0adahal sederhana, orangtua tingga mengobatinya, dan menasehatinya secara baik tanpa perlu membohonginya.
9. Menghibur
Menghibur yang hakikatnya membohongi anak pun tak diperkenankan.
10. Mengeritik
11. Menyindir
12. Menganalisa

Menganalisa disini, jangan terlalu menekankan apa yang kita inginkan pada anak. Berikan ia pilihan, tapi twntu dengan batasan. Sehingga kebijaksanaan tetap kan terwujud di dalamnya.
**



Beberapa hal lain, yang tak kalah menarik seputar anak:

  • Nilai anak : Rendah
Nah, nilai anak rendah bisajadi karena ketidakseimbangan Gizi. tak seimbang (fisik, jiwa, spiritual) Gizi bukan hanya fisik (makanan, minumqn, dll) tapi jiwanya.
Sekolah terlalu dini, otak belum bersambungan beban pelajaran luar biasa

  • Sedangkan Media membentuk
Lazy Mind, Bad Attitude, Habit. Orangtua harus ekstra membentenginya.

  • Cara komunikasi buruk
Anak kita; generasi platinum yg hidup di era digital. Jadi, kita sebagai orangtua pun mesti bisa mendampinginya dan mengontrol dengan bijak.

Hal paling utama dibutuhkan anak adah attachment/kelengketan dengah ayah ibunya. Bukan hanya dengan Ibunya.

**
Berlanjut ke emosi. Emosi sebenarnya bukan tentang marah, dsb. Tapi bahagia, juga bagian dari emosi. Adapun emosi itu bukan dihilangkan, tapi bagaimana kita mengendalikannya.


Mengendalikan emosi
 Anak 1-5 th
Pada usia ini, rasa takut anak yg paling sulit dimengeti. Orangtua patut mendampingi dengan baik

Anak 6-10 th
Pada masa ini, emosi dapat dipengaruhi lingkungan dan media.
Anak juga sudah dapat menamai perasaaan. Apa itu sedih, marah, dab.
Pastikan orangtua menjadi tempat paling aman untuk mengadu. (Curhat)

Adapun teknik mengendalikan emosi, yang perlu senantiasa kita sadari;

Apa benar harus marah?
Sadari, di usia kita yang bukan anak-anak, jangan gunakan aksi dulu sebelum berfikir. Lalu menyesal. Pertimbangkan, apakah perlu marah? Dst. Jangan sampai ketika kita memukul anak, misalnya. Baru menyesal di kemudian hari. Namun, anak sudah terluka jiwanya. Itu lebih sulit diobati.

Tenangkan diri
Hindari memukul
Kendalikan cara bicara
Berwudhu.



Orangtua adalah baby sitternya Allah. Anak adalah titipan-Nya, yang kelak juga akan ditanya bagaimana di dunia kelak, kita mendidiknya. Anak kita lebih berharga dari harta sebanyak apapun, maka menjaganya menjadi suatu Ibadah mulia. Pun menjadi Ibu rumah tangga, adalah kemuliaan seorang perempuan. Tanamkan kepada anak, akan hadirnya Allah dalam setiap urat nadinya. Agar kelak, saat ia dewasa--melanglang buana, ia akan mengerti dengan sendirinya; selalu berusaha berbuat baik karena Allah, bukan sekedar karena kita (Orangtua).

Semoga bermanfaat. Tabarakallah :)