Pages

Selasa, 31 Mei 2016

Mind Map dan Outline Tema Mengubah Musibah Menjadi Berkah

Berikut ini adalah Mind Map dari tema Mengubah Musibah Menjadi Berkah



Dan, berikut adalah outlinenya.

Bab 1
Apa itu pengertian Musibah.

Bab 2
Apakah semua musibah itu menyakitkan? 

Bab 3
Bagaimana Islam berpandangan tentang Musibah.

Bab 4
Apa saja kiat untuk menggapai keberkahan dalam musibah itu sendiri.

Bab 5
Cara agar tetap bersyukur di atas musibah.

Bab 6
Kisah-kisah orang yang berhasil sukses setelah menghadapai aneka macam musibah yang berat.

Bab 7

Motivasi agar istiqomah di dalam syukur meski musibah selalu datang.

Selesai

Hal di atas dibuat sebagai pemenuhan tugas KMO Indonesia 06.

                                               


Mind Map dan Outline Tema Menjadi Mahasiswa Bermanfaat



Berikut ini adalah Mind Map dari tema Menjadi Mahasiswa Bermanfaat.





Dan, berikut adalah Outlinenya.

Bab 1
Apa saja ciri-ciri Mahasiswa yang aktif.

Bab 2
Bagaimana pandangan Islam terhadap Pemuda dan apa pengaruhnya terhadap dunia.

Bab 3
Apa saja pengaruh keaktifan, moral, terhadap prestasi Mahasiswa.

Bab 4
Bagaimana mengenal diri sendiri.

Bab 5
Bagaimana agar keaktifan seseorang tidak merusak prestasi?

Bab 6
Bagaimana mengatasi minder.

Bab 7
Bagaimana agar prestasi bisa bermanfaat bagi orang lain.

Bab 8
Kisah-kisah Mahasiswa berprestasi berawal dari kesusahan dan ketidakmungkinan.

Bab 9

Mengenali Motivasi diri dalam menggapai prestasi.

Selesai

Hal di atas dibuat sebagai pemenuhan tugas KMO Indonesia 06.




Sabtu, 28 Mei 2016

10 Ide Menulis

Berikut, beberapa ide menulis. Yaitu.

1. Pendakian
2. Pantai
3. Pendidikan Agama bagi Anak
4. Kafe
5. Chatting
6. Melukis
7. Pola Mendidik Anak yang Baik
8. Pola Pendidikan Pondok Pesantren
9. Praktikum Biologi
10. Mengatasi Kenakalan Remaja

Rabu, 25 Mei 2016

Kenapa Harus Nulis?




gambar: muslimafiyah.com


"Saya tidak pernah menulis karena ingin mengubah dunia. Saya menulis karena saya ingin tahu, jadi saya membaca agar bisa menulis."

            Perkataan M. Aan Mansyur di atas adalah satu dari berbagai alasan seseorang mau menulis, dan kenapa mau tetap menulis. Banyak sekali jawaban yang biasanya orang katakan saat dikatakan kenapa ia ingin jadi penulis? Kenapa harus menulis?. Jawaban diantaranya adalah.
  1.      Ingin terkenal;
  2.       Ingin dibilang keren;
  3.        Ingin membanggakan Orangtuanya;
  4.       Ingin mengubah dunia, atau sekedar
  5.       Karena saya suka menulis.

            Semua bebas menentukan tujuan kenapa ia harus menulis. Namun, ingatlah kalau menulis hanya sekedar pengin keren, gaya-gayaan, lebih baik berhenti menulis! Bukan tanpa alasan. Menulis adalah pekerjaan yang bukan hanya mengandalkan otak tapi juga naluri. Bagaimana bisa kamu menulis dan menghasilkan ribuan kata yang dapat bermanfaat dalam kebaikan kalau tujuanmu hanya gaya-gayaan.

"Jadi penulis itu kutukan. Kutukan yang keren, tapinya. Jadi penulis itu kutukan: kita melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain, kita berani menulis apa yang orang lain tidak berani menulisnya."

            Begitu kata Sastrawan Seno Gumira Ajidarma. Ini juga salah satu keistimewaan penulis, menurut saya. Mereka dapat melukiskan dalam kata-kata apa yang orang lain tak melihatnya. Bahkan, dari bahasan (mohon maaf) kentut, saja bisa dijadikan tulisan. Kecoak pun bisa jadi sebuah cerpen dari beberapa kumpulan cerpennya Dee Lestari dalam bukunya Filosofi Kopi dan banyak contoh lainnya.

Lalu, apa alasan saya menulis?

1. Menulis adalah sarana mendulang pahala di balik panggung

            Maksudnya, saya suka sekali melakukan hal yang bermanfaat, tanpa orang itu tau siapa di baliknya. Bahkan, saat kecil pas menghadiri acara pengajian akbar. Saya melihat dengan seksama panggung besarnya, dan runtut acaranya. Apa yang saya pikirkan? Suatu saat nanti saya ingin jadi orang besar yang bermanfaat tanpa orang tahu siapa saya. Meski saya belum tau, akan jadi apa saat itu. Belum tau istilah sutradara apalagi penulis dan pekerjaan-pekerjaan lain yang mengandalkan di balik panggung atau layar.

2. Menulis adalah kesukaan

            Hal yang menjadi kesukaan seseorang, biasanya akan mendorong dirinya sendiri untuk survive terhadap kesukaannya. Salah satunya dengan mengikuti kelas online menulis. Sehingga yang ada di dalamnya adalah gerak suka bukan keterpaksaan.

3. Menulis itu menyehatkan

            Sudah banyak artikel yang mengatakan cara efektif menghilangkan stress adalah dengan menulis. Secara psikologi memang melalui menulis dapat menghilangkan hormon penyebab stress.

            Gambaran umumnya kenapa saya menulis adalah tiga di atas, tak lain pula mencoba terus belajar agar menghasilkan tulisan yang bermanfaat dan meraih ridha-Nya. Aamiin.

Semoga bermanfaat.

Tegal, 24 Mei 2016



Tulisan ini diikutkan dalam tugas KMO Indonesia 06B..

Sabtu, 21 Mei 2016

[Resume] Seminar Inspiratif "Membangun Moral, Membidik Mimpi, untuk Meraih Prestasi"




Kali ini, Saya ingin menuliskan inti yang disampaikan pada seminar kemarin. Sekaligus sebagai jejak tulisan, tatkala saya lupa dan perlu membacanya kembali, agar teringat motivasi dari mereka.

Langsung saja, materi pertama disampaikan oleh Ustadz Ghuzni Darojatun, M.Pd. Ulama yang aktif di berbagai lembaga keislaman. Guru berprestasi tingkat MTS se-Jawa Tengah.

Materinya berjudul "Perbaiki Diri, Ajak Orang Lain dalam Kebaikan". Hancur dan bangkitnya sebuah peradaban berawal dari pada pemudanya. Namun, yang terjadi sekarang justru banyak kebiasaan buruk yang seolah sudah menjadi penyakit akut. Kebiasaan buruk itu antara lain tradisi Hedonisme, Permissivisme, dan konsumerisme. Yang terangkum dalam 3 F (Food, Fun, Fashion). Para pemuda sekarang kebanyakan tenggelam dalam ketiganya. Seakan lupa tujuan dan jati diri hidupnya.

Adapun solusinya yaitu dengan memahami dan menerapkan 3 P.
1. Purpose (memahami tujuan dari cita-citanya)
2. Passion (semangat terhadap pilihan yang diambilnya)
3. Performance (sehingga akan menghasilkan penampilan dari realisasi tujuan dan fokus yang jelas).

Ditutup dengan quote menarik yaitu "karena perbuatan kita itu seperti Gema." Jadi, bila kita berbuat baik, pasti akan datang kebaikan-kebaikan pada diri kita. Pun sebaliknya. Seperti sebuah gema.

Selanjutnya materi disampaikan oleh Birrul Qodriyyah, S. Kep. Seorang Alumni Mahasiswi Keperawatan UGM yang sangat berprestasi.

"Al Islamu mahjubun bil muslimin."
-Syeikh Muhammad Abduh-
Maksud dari perkataan di atas yakni. Intinya bahwa keindahan Islam itu, sekarang tertutupi oleh orang Islamnya itu sendiri. Contohnya Islam sangat mencintai kebersihan. Tapi, banyak kaum muslimin yang buang sampah sembarangan, bahkan sampai menyebabkan banjir.

"Akhlak merupakan cerminan iman."
Adapun kiat menjadi Muslim yang berakhlak baik, yaitu.
1. Membiasakan melakukan hal baik
2. Melihat perbuatan yang baik
3. Berteman dengan orang yang baik

"Science without religion is blind, but religion without science is lame."
-Albert Einstein-

Dari Imam Syafi'i pun hampir senada. Yakni yang intinya seorang pemuda yang baik harus memiliki modal ilmu dan taqwa.

Pada dasarnya, memang semua manusia sama. Namun, yang membedakannya adalah.
1. Curiousity (rasa ingin tahu)
2. Iqra' (membaca)
3. Himmah (cita-cita)

Tetap semangat menggapai mimpi-mimpimu. Yakinlah Allaah Maha Mengetahui semuanya.


UPS Tegal, 19 Mei 2016

                                      

NB. Info lebih lanjut pemateri, bisa menghubungi beberapa contact person yang sempat saya catat.
Ustadz Ghuzni Darojatun, M. Pd di No. Hp 0812 2959 2492
Birrul Qodriyyah, S. Kep di E-mail birrulqodriyyah@yahoo.co.id dan akun Twitternya @BirrulQodriyyah atau ke blog birrulsholikhah.blogspot.com





Selasa, 17 Mei 2016

Dialog Cahaya

gambar: orig01.deviantart.net


Di sekelilingku terang sekali
Ada bulan setengah menyinari
Tak luput pendar kilau bintang mengelilingi
Bola-bola lampu pun turut melengkapi

Seberkas sinarnya menikung ke ranah misteri
Lalu menyudutkan pada para wartawan dari negeri hati.
"Apa benar aku ditemani cahaya?"
"Lalu, titik kelam itu masih ada?"
"Kenapa tak larut juga?"

Makhluk-makhluk malam mulai berdendang
Seakan mengiringi tanyaku yang kian mengawang
Aku tertekuk pada rona wajah sama: dia
Dikumpulkannya materi-materi angka berjuta-juta
Berpeluh-peluh hingga bertemu usia senja
Tapi, berkamuflase dalam jubah tiada

Apa matanya tlah buta?
Apa hanya belum terbuka?
Atau...
Pura-pura terlupa?

Pada cahaya yang sudah ria menyapa
Aku tertekuk lagi
Aku takut...
Takut dia tlah bersulam nyata
cahaya buta
: harta dan tahta.

Kota Bahari, 26 Agustus 2015

Senin, 16 Mei 2016

[Resensi] Menjawab Curhat Muslimah

Judul                 : Curahan Hati Perempuan
Penulis              : Muhammad Syafi'i el-Bantanie
Penerbit            : Quanta, Elex Media Komputindo
Tahun Terbit     : 2014
Tebal Halaman : vii+127 halaman

Blurb:

Pernahkah Anda mengalami sebuah masalah, namun tidak bisa memecahkannya sendiri. Mau curhat ke orangtua, guru, atau teman tapi malu. Akhirnya, Anda bingung dan terkungkung dalam masalah tersebut. 

Buku ini bercerita tentang curhat (curahan hati) perempuan yang disampaikan kepada penulis. Ada curhat yang mengundang salut, tawa, sedih, prihatin, bahkan marah. Ada curhat yang menderai air mata, namun ada juga curhat yang membuncah senyuman. Intinya, warna-warni.

Sinopsis:

Sejak memulai karier sebagai penulis pada tahun 2005, Muhammad Syafi'i El-Bantanie telah menulis sebanyak 40 buku. Dalam rentang waktu 2005 sampai 2014, buku-bukunya tidak hanya tersebar dan dibaca oleh masyarakat Indonesia. Bahkan sudah lima buku yang diterjemahkan ke Bahasa Melayu di Malaysia. Dari sini muncul cerita-cerita menarik, salah satunya adalah curahan hati (curhat) para pembacanya yang disampaikan melalui SMS, telepon, email, inbox Facebook, bahkan ada yang berkunjung ke rumah penulis.

Buku ini berisi tentang sharing curhat pembaca terkhusus perempuan. Mereka diantaranya ada yang remaja, mahasiswi, pekerja kantoran, praktisi, wiraswasta, sampai ibu rumah tangga. Tentu dalam penulisannya, penulis menjaga betul privasi dan nama baik pembaca dan identitas privasi lainnya.

Pada konsepnya pun bukan curhatnya yang dieksplorasi, melainkan tanggapan dan saran yang dapat
membantu menjawab curhat dari berbagai hal, mulai dari perkara jilbab, akhlak, jodoh, sampai rumah tangga.

Review:

Buku bersampul pink dengan desain cover berlatar wanita berkerudung dengan menutup mata dan tetes tangis di mata kanannya tanpa tergambar mulutnya. Ini cukup menggambarkan isi dari buku yang tertulis. Menyajikan curhatan-curhatan yang beraneka rupa, ada yang pelik, sangat menyentuh, sampai mengundang sedikit tawa.

Kebanyakan dari perempuan yangpunya masalah berat enggan mencurhatkan masalahnya, dan memilih diam. Padahal dibalik diamnya terkandung masalah yang perlu diselesaikan.

Buku ini menceritakan berbagai curhat perempuan, disajikan dengan bertitik pada pembahasan tanpa terlalu mengeksplorasi. Salah satu awal pembahasann curhat Antara Jilbab dan Akhlak. Dua perintah
berbeda. Yang idealnya, setiap muslimah menjalankan keduanya, berjilbab dan berakhlak mulia.

Masih berlanjut perkara Pekerjaan atau Jilbab pada curahan ketiga. Problematika wanita karier yang bingung antara mempertahankan memakai jilbab atau memutus pekerjaan karena larangan berjilbab. Disini penulis menjawab dengan bijak. Didahului dengan dalil perintah berjilbab, saran berdialog, menetap sementara bekerja dan bersungguh-sung guh mencari pekerjaan yang lain, dan ketiga, bila mantap alangkah baiknya mengundurkan diri dari perusahaan. Meyakinkan, Allah akan mengganti dengan pekerjaan yang lebih baik.(halaman 21)

Curhatan yang cukup membuat tawa dan kagum yakni dari curahan hati 9 (halaman 67). Tentang seorang perempuan yang menanyakan cara dan niat mandi junub. Kagum karena tidak malu menanyakan hal- hal yang umumnya orang beranggapan sudah tau. Tapi tak ada salahnya menanyakannya, etika bersuci (taharah) dibahas disini. Selain itu penulis menyajikan kisah nyata yang menggiring pemikiran dan keimanan kita akan dahsyatnya kekuatan ikhlas dan tawakal.

Hal ini tersampaikan pada curahan hati ke duabelas tentang problematika sebuah keluarga yang sudah sepuluh tahun tapi belum diberikan keturunan. Penulis menjawab dengan menyelipkan pertanyaan "Apakah Anda berdoa memohon anak setiap usai shalat lima waktu?" "Amal saleh apa yang sudah Anda lakukan dengan istiqomah?"

Penulis juga menyajikan kisah inspiratif dalam menjawabnya, yakni kisah penulis buku Quantum Ikhlas, Erbe Sentanu. Kisah Erbe Sentanu, yang mengatakan "Sebuah keajaiban tlah terjadi dalam hidup saya. Sekitar enam tahun berumah tangga, saya dan istri saya, Veve belum dikaruniai anak. Seorang androlog memvonisnya mandul. Kini kami sudah mendapatkan setengah dari pemecahannya, siang dan malam berdoa dan membayangkan kehadiran buah hati. Perubahannya, hatinya lebih ikhlas. Dalam kondisi seperti ini, terselipkan niat kepada Allah agar diberi keturunan. Tiga minggu kemudian, keajaiban itu mulai terjadi. Dan sekitar setahun kemudian, bayi itupun lahir."

Masih banyak curahan hati lainnya yang sangat menyiratkan arti hidup, tawakal, ikhlas, kesabaran dan nilai lain yang patut disimak. Ejaan yang rapi, lay out cantik, dan kelayakan penulis dalam memberi saran patut diacungi jempol.

Rekomendasi:

Buku yang sangat berfaedah ini patut diselami manfaatnya. Mengingat banyak persoalan perempuan yang dibahas di dalamnya. Membantu menjawab berbagai pelik masalahmu. Tak hanya untuk remaja,
ibu rumah tangga, pegawai kantor, dan semua kalangan perempuan. Semoga kedepannya akan dikupas lagi curhat-curhat lain yang dapat membantu menjawab permasalahan lainnya.

Ditulis pertama kali di status facebook, pada 12 November 2014

Jumat, 06 Mei 2016

[Resensi] Membingkai Kerumitan dengan Kesederhanaan




Penulis        : Tere Liye
Judul Buku : Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Penerbit      : Republika
Cetakan      : I, Februari 2009
Halaman     : iv+427 hlm 20.5 x 13.5 cm

"Kau benar, Ray. Ada satu janji Tuhan. Janji Tuhan yang sungguh hebat, yang nilainya beribu kali tak terhingga dibandingkan menatap rembulan ciptaan-Nya. Tahukah kau? Itulah janji menatap wajah-Nya. Menatap wajah Tuhan. Tanpa tabir, tanpa pembatas... Saat itu terjadi maka sungguh seluruh rembulan di semesta alam tenggelam tiada artinya. Sungguh pesona dunia akan layu. ..." (hal.425)

Ray, begitulah panggilan Rehan. Tokoh utama dalam novel ini. Seorang yang kenyang pahit getirnya kehidupan kehidupan sejak kecil.

Masa kecilnya, tak seriang anak biasanya. Bahkan seringkali mengutuk kenapa ia harus dibesarkan dalam panti itu. Sebuah panti yang menurutnya kejam. Tersudut kebencian utamanya pada penjaga panti yang menurutnya biadab. Pecut rotan, Guyur hujan malam--karena dihukum akibat ulah nakalnya, sudah jadi seperti cemilan kehidupannya. Ia pun tumbuh dalam kebencian yang akut. Meski sebenarnya anak yang cerdas. Sayangnya, lingkungan tak mendukung. Batinnya pun kadang iri, saat di jalanan melihat anak panti lain, berseragam sekolah. Sementara ia harus kerja, setor, dan perlakuan kasar dari penjaga panti.

Aneka kejadian dalam masa pelik hidupnya, mengundang berbagai pertanyaan tentang kehidupan. Kadang dia merasa apakah Tuhan itu adil, Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi, dan beberapa pertanyaan lainnya.

Mengutip dua pertanyaan di dalam Novel, Sebenarnya pertanyaan Apakah Tuhan itu adil, bukan hanya karena sesak pahitnya kebencian terhadap penjaga panti, kenapa Diar--yang menjemput kematian dulu, kenapa lukisan Ilham harus hancur gara-gara preman, atau
kenapa Natan harus kehilangan suara dan cacat karena dipukuli preman yang menyebabkan ia gagal mengikuti festifal musik? Tapi pertanyaan itu bermuara pada kenapa ia harus hidup di panti kejam itu dan siapa ayah ibunya.

Rentetan kejadian membawanya memahami. Bahwa hidup ini ada sebab-akibat. Suatu hal yang terlihat buruk oleh kita, itu bisajadi menjadi sebab perubahan baik seseorang. Contohnya pada Natan, yang cacat. Namun tak disangka dari kekurangannya itu ia jadi pencipta lagu hebat. Dan ternyata mimpinya pun mulia. Yakni bisa menjadi sebab melunakkan hati seseorang. Semacam motivator. Ini salah satunya, bukti Tuhan selalu adil. Kita yang seringkali mudah menyimpulkan sesuatu: buruk sangka.

Ray, mengenyam liku pahitnya mulai dari panti yang menurutnya kejam, keluar panti dan jadi anak jalanan, berjudi, mengamen, bahkan jadi partner pencuri berlian..

Belasan hingga usianya puluhan tahun. Tiba di masa pertemuannya pada gadis bernama Fitri, meski dia memiliki masa lalu yang pahit, namun Ray tulus mencintainya. Pernikahan pun terlaksana. Kehidupannya berjalan aduhai romantisnya. Seperti pasangan muda yang selalu bahagia. Karir Ray pun sudah berubah cukup drastis. Dari jadi kuli, mandor, dan sampai ke tingkat yang lebih tinggi karena kecerdasannya. Kehidupan Ray dan Fitri berubah jadi kelam saat takdir memisahkan keduanya. Si 'Gigi Kelinci', sebutan Ray untuk istrinya itu, meninggal dunia. Menyusul sebelumnya: calon anak yang telah lebih dulu pergi. Hingga kesedihan itu mengukir tanya "Kenapa langit tega sekali mengambil istrinya. Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi?."

Namun, perihal itu akan lebih dipahami saat orang mau melihat dari sisi yang pergi, bukan dari sisi yang ditinggalkan. Itu sederhananya.

"Ketahuilah Ray, bagi istrimu, sejak pernikahan kalian, maka tujuan hidupnya menjadi amat sederhana. Kau sering mendengar istrimu berkata, 'Bagiku kau ikhlas dengan semua yang kulakukan untukmu. Ridha atas perlakuanku padamu. Itu sudah cukup' Nah, itulah tujuan hidup istrimu. Amat sederhana.(hal.316)

Sebuah novel yang dikemas dengan bahasa yang bagi saya, membuat berfikir. Tak luput kalimat indah, puitis menambah patut diselami. Di dalamnya tak hanya perihal romansa percintaan. Tapi lebih banyak tentang bagaimana seseorang menyikapi pelik, pahit, entah segetir apapun yang dihadapinya. Terasa sekali, betapa kita di dunia ini pada akhirnya bukan apa-apa. Nol akan ke nol. Semuanya akan jadi benar-benar kosong, kala ambisi rakus cinta dunia itu menguasai manusia.

Kekurangan novel, Mungkin, dari judulnya saya bingung kenapa kata mu nya, huruf M nya tidak pakai kapital jika dituju untuk Tuhan. Padahal di akhir kisah, bukankah maksud judul ini diambil dari kebiasaan tokoh Ray, saat mengalami penatnya hidup, lalu dengan memandang rembulan, ia merasa dunia ini ada yang lebih indah. Meski pada hakikatnya rembulan pun hanya segelintir. Terkalahkan mahabesar menatap wajah Tuhan. Lalu, mungkin, ada yang kurang suka atau bosan dari kalimat yang sering diulang. Tapi, saya tetap suka. Dari makna yang dapat kita ambil. Hikmah pesan jauh lebih besar dari kekurangan itu. Meski fantasi, tapi ini sangat memotivasi. Rekomendasi nih, buat kamu.

Dan, beberapa qoute yang saya suka dan memotivasi yakni


"Kalian mungkin memiliki masa lalu yang buruk, tapi kalian memiliki kepal tangan untuk merubahnya." (hal.96)

Rabu, 04 Mei 2016

Karena Kita

"Karena aku, kamu, dan kalian adalah kita"

Isra Mi'raj kali ini amat berbeda. Bukan karena apa atau apa. Tapi memang berbeda. Dari kamu, dia, dan kita juga suasana. Tangan kita memang tak menyatu. Namun saling membahu satu sama lain. Yang capek--dibantu, yang haus--diambilkan minum, yang lapar pun--diantarkan makanan. Ini adalah bagian dari anugerah Allaah bernama kebersamaan.

Kepala kita memang tak sama. Tapi saling bertukar pikir sehingga membentuk visi senada. Ini tercermin dari beberapa hari sebelum ini. Ada pemberitahuan untuk membawa ponggol, semacam sebutan nasi warteg yang dibungkus. Namun, menuai protes. Akhirnya diambillah keputusan iuran untuk membuat tumpeng. Indah, bukan?

Acara berlangsung. Kilas balik sebentar, karena bertepatan dengan praktikum dakwah, jadi ada sebut saja Al dan kawan-kawan. Al mewakili sebagai penceramah dari kelompoknya. Dengan tema menuntut ilmu. Reaksi tak begitu menarik perhatian pendengar, rupanya. Terbukti dari saling ngobrol sendiri. Namun, secara materi tersampaikan. Namanya juga belajar kan? 

Lalu, acara inti pun dimulai. Yakni sebut saja Ani dan kawan-kawan. Ani mewakili sebagai penceramah. Jauh riuh dari sebelumnya. Bukan riuh karena ribut sendiri, namun karena terbawa pembawaannya yang bisa terwakilkan dengan dua kata; kocak dan agak menyebalkan. Menyebalkannya bukan karena apa-apa. Tapi sesekali salah. Entah disengaja atau tidak. Contohnya pas nyebut Muslimin yang harusnya ke laki-laki eh ini tangannya ke perempuan. Begitulah kiranya. Eits, tapi kata Dosennya dia cukup berbakat lho. Ciyee... support you!!



Usai praktikum Isra Mi'raj yang disampaikan Ani, tiba saatnya potong tumpeng. Dan makan-makan pun tak terhindari lagi. Makan bersama dalam kesederhanaan tumpeng. Ada yang menyebut dengan tumpeng Alay. Isinya sih, ya sama seperti biasanya. Ada sayur, oreg tempe, ketimun, dan sebagainya. Ini hanya secui nikmat dari-Nya yang diberikan melalui sisi bernama kebersamaan. Banyak nikmat lain, yang semoga semoga bisa terus memahami hakekat mensyukurinya. Aamiin

Secuil goresan kali ini, mengawali blog yang baru bikin lagi. Semoga bisa lebih baik  dan bermanfaat postingan-postingannya. Aamiin. Diakhiri dengan quote untuk kali ini, yakni

"Persahabatan adalah tentang kita. Bukan pokoknya harus saya ya saya."


Selasa, 3 Mei 2016