Pages

Jumat, 22 Desember 2017

[CERNAK] Menemani Adik ke Warung


(Dimuat di Joglo Semar, 12 November 2017)
Oleh: Siti Rokhanah

Jam istirahat sekolah Dila sudah tiba. Dila pun bersegera pulang ke rumah, karena lupa tidak membawa uang saku. Dila yang sekolah di salah satu SD Negeri di Kota Tegal pun segera berlari pulang.
            "Assalamualaykum, Bu. Dila mau ambil uang saku. Tadi pagi lupa belum diambil."
            "Waalaykumsalaam, Kalau sudah, kesini, Nak. Temani Adikmu dulu, ya. Beli jajan di warung Bu Inah."
            "Tapi, Bu? Dila kan mau ke sekolah lagi."
            "Sebentar saja. Kasihan Adikmu, Ikko. Daritadi nangis pengin beli jajan. Ibu lagi masak, takut gosong kalau ditinggal."
            "Iya, deh. Buruan, Dik."
            "Hati-hati, Nak. Nanti antarin lagi Ikko pulang. Jangan ditinggal."
            "Iya, Bu. Dila pergi dulu. Yuk, Dik!"
***
            "Ikko mau beli jajan apa? Ini?" Nana bertanya ke Adiknya, sambil menunjukkan snack yang dimaksud.
            "Apa mau kue coklat aja?"
            Ikko menggeleng lagi.
            "Terus mau apa? Yang mana? Cepetan!" Dila mulai kesal.
            Ibu Inah, pemilik warung pun dari awal sudah menawarkan aneka snack, bolu, sampai minuman. Tapi ditolak Ikko.
            "Ikko mau sama seperti yang di iklan tadi. Bukan yang itu." Ikko mulai merengek karena dibentak Kakaknya.
            "Kakak tidak tahu tadi Ikko lihat iklan apa. Yang ada di sini saja, cepetan!"
            "Atau... Kakak tinggal nih?"
            Ikko malah menangis kencang.
            "Yasudah, Kakak tinggal!" Dila pun berlari kembali ke sekolahnya, karena takut bel masuk sudah tiba.
            "Ayo, Ikko masuk saja dulu di rumah Bu Inah. Duduk atau berbaring di kursi sana dulu ya, Nak. Jangan nangis. Cup... Cup..."
            Ikko hanya menganggug dan duduk di kursi ruang tamu Bu Inah. Tak sadar, dia pun mengantuk, lalu tertidur.
***
            "Assalamualaykum, Bu. Dila pulang."
            "Waalaykumsalaam, Dila. Dila meninggalkan Ikko di mana? Kenapa tidak diajak pulang dulu?"
            "Hm... Dila takut sudah bel masuk sekolah, Bu. Jadi Dila tinggalin Ikko di warung Bu Inah. Maafin Dila, Bu."
            "Dila... lain kali tidak boleh begitu lagi ya, Nak. Ibu sangat cemas mencari Ikko tadi, Nak."
            "Tapi Ikko sudah pulang kan, Bu?"
            "Alhamdulillah, sudah. Bu Inah yang mengantarkannya ke sini. Katanya sempat tertidur di rumahnya. Terus terbangun, dan minta pulang. Kasihan Bu Inah, jadi merepotkannya."
            "Nak, Ikko kan masih kecil. Belum paham jalan. Kamu sebagai Kakaknya harus menjaga dia dengan baik." Ibu Dila menasehati dengan lembut.
            "Maaf, Bu. Habisnya, Dila kesal. Ikko rewel banget di warung. Ditawarin ini, itu, tidak mau."Dila menjawab dengan ekspresi sebalnya.
            "Dila, Ibu kan sudah bilang. Adikmu masih kecil. Dia juga belum paham benar, mana yang baik dan tidak. Makanya, kamu sebagai Kakaknya harus mencontohkan yang baik. Harus bertanggung jawab menjaganya. Bukan meninggalkannya."
            "Iya, Bu. Maafkan Dila. Dila istirahat dulu, ya."
            Sejak kejadian itu, Dila lebih memahami Adiknya. Membuatnya tertawa, saat Adiknya mulai sebal. Menemaninya bermain, membeli jajan, dan melindungi Ikko. Tidak ingin meninggalkan Adiknya lagi sendirian. Dila ingin menjadi Kakak yang bertanggung jawab.

-SELESAI-

[CERNAK] Nana Belajar Bertanggung Jawab

(Dimuat di Joglo Semar, 13 Agustus 2017)
Oleh: Siti Rokhanah

            Hari itu, sekolah libur. Nana, yang bersekolah di salah satu SD Negeri di kota Tegal pun berencana ke rumah temannya.
            "Ibu, Nana pamit, ya. Mau main ke rumah Suci dulu. Assalamua'alaikum." Nana mencium punggung telapak tangan Ibunya.
            "Wa'alaikumsalam. Iya, hati-hati, Sayang." Ibunya tersenyum.
Sesampainya di rumah Suci, ada Kakak Suci. Namun, mereka berdua terlihat saling tak menyapa, seperti habis bertengkar. Kakak Suci pun yang mempersilahkan Nana masuk.
            "Suci, habis bertengkar, ya?" Nana bertanya antusias, melihat ekspresi Suci yang sedih. Namun, Suci hanya diam.
            "Suci, Kita main aja yuk. Apa ya enaknya? Yang seru! Biar kamu jangan cemberut terus." Nana tersenyum lebar melihat Suci yang mengelap air mata.
            "Main apa aja terserah, Nana." Jawabnya singkat.
            "Gimana kalau petak umpet?"
            "Jangan, ah! Suci penginnya yang duduk aja di sini."
            "Yasudah, kita main tebak nama buah-buahan aja. Sesuai huruf abjad, gimana?"
            "Nanti yang tidak bisa nebak, dicubit." Nana antusias sekali menjelaskan. Lalu segera meletakkan jari-jari telapak tangannya ke tanah. Siap untuk bermain.
            "Hm... Iya, deh. Nana yang mandu aja."
Tangan Suci pun segera menyiapkan jari-jarinya untuk dihitung. Sampai akhirnya, Nana berhenti menghitungnya.
            "A, B, C, D! Delima!" Teriak Nana.
            "Yey! Suci kalah. Sini tangannya!" Nana menarik tangan Suci dan mencubitnya segera.
            "Aww!! Aduh, sakit, Nana! Kakaaak!!" Suci teriak histeris.
            Nana bingung, sekaligus kaget mendengar reaksi Suci. Dia pun segera lari dan pulang tanpa pamit.
***
            "Kamu kenapa, Nak? Kenapa lari-lari?" Ibu Nana heran melihat anaknya berlari dan terlihat sangat cemas.
            "Tidak apa-apa, Bu. Nana cuma pengin buru-buru istirahat. Nana masuk dulu ya, Bu."
            "Dimana Nana, Bu? Dia sudah bikin Suci nangis, Bu." Syifa, Kakak Suci mendatangi rumah Ibunya Nana dengan sangat kebal.
            "Ada apa ini, Syifa? Ayo masuk dulu ke rumah. Silahkan duduk." Ibu Nana semakin terheran.
            "Nana... Kemari, Nak. Ada Suci, nih." Ibunya memanggil Nana dari ruang tamu. Namun Nana masih ketakutan. Dia pun pura-pura berbaring di kamarnya.
            "Nana... Ayo, kesini, Nak."
            Akhirnya, Nana pun keluar menemui mereka. Wajahnya terlihat sangat takut. Apalagi Kakak Suci yang terkenal galak itu yang menemui Ibu. Nana mendekat ke tempat duduk Ibunya.
            "Nak, Apa benar Nana yang nyubit Suci sampai nangis?" Ibu Nana bertanya.
            Nana hanya membalas dengan anggukan kecil.
            "Nana sekarang minta maaf ke Suci. Ayo, bilang tidak akan mengulanginya lagi."
            Nana pun mendekat ke Suci dan mengulurkan tangannya.
            "Maafin Nana ya, Suci. Nana tidak bermaksud membuat Suci nangis."
            Suci hanya mengangguk.
            "Nak, lain kali jangan begitu, lagi, ya. Ibu tidak ingin anak Ibu nakal dan tidak mau bertanggung jawab dari perbuatannya. Kalau berbuat salah, harus berani bertanggung jawab. Nana paham, kan?"
            "Iya, Bu. Nana tidak akan mengulanginya lagi. Nana akan belajar bertanggung jawab." Nana tersenyum lega.

-SELESAI-

Kamis, 31 Agustus 2017

Kenapa Harus Nulis (Lagi) ?


Kenapa harus nulis? Pertanyaan sederhana, beraneka rupa jawabannya.
Namun, dari jawaban itulah yang cukup andil—'kan jadi arahan langkah ke depannya mengarungi dunia aksara.

"Menulis adalah dedikasi penuh untuk hidup dan untuk-Nya." (Tere Liye)

Menulis. Saya pun langsung teringat beberapa kalimat motivasi dari Tere Liye. Seperti di atas. Menulislah untuk dedikasi penuh hidupmu. Itu penulis produktif, ya... jawabannya begitu, pada saat sebuah acara bincang santai.
Lalu, bagaimana saya?

Kalau ditanya seperti itu dan menjelaskan dengan berbagai rupa, mungkin tak akan kelar sehari. Banyak hal yang membuat kita ingin menulis. Beberapa di antara, kebanyakan orang adalah:
> Ingin berbagi dengan orang lain
> Ingin meluapkan ekspresi kita
> Ingin menciptakan perubahan
> Ingin saling menasehati
> Ingin mengorasikan kebebasan jiwa, dan banyak hal lainnya.

Tapi, apapun itu tentu baik. Yang harus ditekankan selalu adalah jangan menulis karena materi semata. Bisa apa kita? Kalau hanya tujuannya materi, bisa kacau. Sangat mungkin akan menulis hal-hal negatif sekali pun, karena ada pihak yang mau membayarmu dengan mahal. Jadi, please jangan sampai, ya.
                                                                          ***
"Kalau menulis karena ketulusan, berbagi, maka terus lakukan. Konsisten di dalamnya." (Tere Liye)

Ya, cukuplah quote itu mewakili pertanyaan "kenapa saya harus nulis?" Saya menulis ingin untuk itu. Menulis karena gelisah. Gelisah melihat banyak remaja lebih menghabiskan waktu untuk hal-hal negatif, misalnya. Saya ingin berbagi. Menyentuh sisi lain dari sebuah cara menasehati. Ya, terutama dunia remaja, khususnya. Rasanya ada perasaan bersalah, kalau tak melakukan menulis. Bahkan, sesepele menulis status facebook yang mengajak ke arah kebaikan pun, itu bagian dari sesuatu yang barangkali itu yang dibutuhin mereka (remaja). 

Jadi, menulis karena...
Peduli. Berbagi. Menasehati Diri. Cinta.

Lalu, ketika rasa malas melanda, kita akan kembali ke alasan-alasan itu—motivasi kita menulis.
Namun, ada satu hal yang pasti. Menulis itu pekerjaan konkret. Nihil, kalau ingin menulis, tapi hanya sebuah ingin menulis. Sebab itu, terus melatih diri menulis, adalah sebuah hal yang perlu dilakukan.

Kenapa harus menulis (lagi)? Tentu karena kita ingin bekerja untuk keabadian. Peduli, berbagi, dan ketulusan niatmu adalah bekerja untuk keabadian. Bahkan, sampai nafas tiada. Apabila niat kita baik, InsyaAllah tercatat kebaikan pula.

Adapun untuk kedepannya, kita disebut penulis atau bukan, karena konsistensi. Jangan sampai baru nulis satu, dua buku, lalu menyerah. Sebab itu niat-niat baik kita—secara tidak langsung akan mempengaruhi proses kedepannya. Memotivasi, meski lagi malas-malasnya.

"Penulis yang baik dilihat bukan dari sekarang. Tapi seberapa tahan banting kamu menghadapi konsisten menulis." (Tere Liye)


Teruslah menulis, lagi, dan lagi...

Tegal, 31 Agustus 2017

Jumat, 04 Agustus 2017

Sekotak Kekaguman




Back Cover :

Adalah cinta bukanlah sebuah permainan kata layaknya karya fiksi yang banyak dijejali imajinasi. Sebuah rasa pertama yang terasa saat kita membuka mata melihat dunia.

Adanya hati kita percaya akan hadirnya Tuhan adalah sebab cinta. Cinta tak bisa diproyeksikan layaknya naskah lakon yang dipentaskan dalam drama. .

Ada yang dengan kehadirannya bisa tertawa bahagia. Ada pula hati yang patah dan perasaan yang layu begitu memilih untuk menjalaninya. Konflik cinta terwujud karena sikap kita menyikapinya, akankah kita membiarkannya untuk tumbuh besar, atau hanya sekadarnya saja.

Tuhan, Ibu, Ayah, kekasih, ilmu pengetahuan, dan impian. Kepada siapakah kita akan benar-benar bertahan untuk menjalani kehidupan dengan cinta? Kepada siapakah kita akan mengadu saat keganasan cinta justru merenggut kebahagiaan? Bukan cinta yang salah, melainkan kita.

Semoga kita dipertemukan dengan cinta yang enggan membunuh kita.

Aamiin.
_____________________________________
Penulis : Siti Rokhanah, Ika Susilowati,
Humayra Faja Syams, Syahrul Romadhon,
Desi Nur Istanti, dkk

Penyunting : Tim Harasi
Tata Letak : S. Ellyka
Desain Sampul : Tim Harasi
ISBN : 978-602-6582-37-9

Harga: 45.000,-
Beli lima gratis ongkir. (Khusus Jawa)

Cetakan Pertama, Mei 2017.
Diterbitkan oleh
Penerbit : CV. Harasi

[Resensi] Memetik Hikmah dari Perjalanan Menebus Dendam

(sumber gambar: Republika)

Nama Buku     : SERUNI
Penulis             : Almas Sufeeya
Penerbit           : Republika
Cetakan           : I, Februari 2017
Tebal               : vi+ 239 halaman ; 13,5 x 20,5 cm
Blurb
Seruni tak menyesal meninggalkan segala hal yang menjadi tumpuan hidupnya selama bertahun-tahun di negeri sakura. Karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan menunda atau menunggu untuk bisa kembali ke Indonesia demi seseorang yang amat dirindukan. Meskipun harus menempuh jalan yang panjang, sukar, dan terjal. Ia siap menanggung segala konsekuensi asalkan bisa bertemu dengan orang itu.
***
Sinopsis
Novel beraroma jepang, kental terlihat saat pertama kali melihat covernya. Seorang wanita jepang dengan mawar besar di punggungnya. Mawar, simbolik bunga kesukaannya yang sama juga dengan nama Ibunya.
            Sejenak menelusuri penasaran, memang berkisah tentang gadis bernama Krisan alias Seruni yang tinggal di Jepang. Jauh hari rela pergi meninggalkan tumpuan hidupnya di negeri sakura itu, demi sebuah pencarian. Bertemu dengan kakak kandungnya, Aster.
            Sebuah konflik pelik telah memisahkannya. Konflik yang berbuah dendam hingga sebuah keputusan nekad terjadi. Seruni memilih pergi ke negeri Jepang. Bahkan, lewat cara yang begitu menyakitkan: menghilangkan jejak, dengan pura-pura telah meninggal dunia.
            Keputusan ayahnya yang menikah lagi dengan Devi, perlakuan Mama tirinya yang jahat, sukses membuatnya begitu dendam. Kebencian karena berpisah dari Ibu kandungnya, dan perlakuan jahat Mama Devi begitu membuat Seruni bertekad pergi dengan cara membuat rekayasa dengan seseorang bernama Taro, yang mana Taro sendiri anak dari mantan suami Devi. Taro pun mengajak Seruni menjalankan sebuah misi. Pura-pura meninggal, mengaburkan jejak dengan pergi ke negeri sakura itu. Berharap Devi akan merasakan hal sama. Sakit, kehilangan, dan sebagainya.
            Namun, dendam tetaplah dendam. Salah satu hal indikasi melakukan perbuatan jahat, pasti tidak tenang. Bertahun-tahun kejadian itu berlalu, sekuat apa pun Seruni menjalani aktivitasnya di Jepang, ia tak bisa menyembunyikan tangisnya. Tangis rindu pada Aster, Kakaknya. Hal itulah yang dirasakan Seruni. Tanpa sepengatahuan Taro, Seruni pun pergi ke Indonesia. Mencari keberadaan kakaknya, Aster.
            Banyak fakta dan lika-liku yang terjadi selama pencarian Aster oleh Seruni. Mulai dari bertemu Ana, yang begitu tulus sukarela membantunya. Bahkan menawarkan pekerjaan padanya, meski baru pertama kali bertemu. (Hal. 38). Perjumpaannya dengan Aster, sangat mengejutkan. Sangat berbeda. Aster kini adalah sosok yang anti sosial, tidak suka bicara, dan sering melamun sendiri. Juga perjumpaannya kembali dengan Mama Devi, serta hal-hal mengejutkan lain. Yang banyak mengajarkan kita, tentang bagaimana sikap terbaik dalam menghadapi masalah.
Kelebihan
Novel yang menyuguhkan aneka pelajaran hidup yang berharga. Bagaimana agar tetap semangat, menyikapi kehilangan sebenarnya. Karena, sejatinya, kehilangan yang sebenarnya adalah kehilangan semangat hidup (Hal. 86). Hidup juga harus tetap dijalani, sepelik apapun masalah yang dihadapi. "Setelah Mama nggak ada, aku belajar melewati hari demi hari tanpa orang yang paling aku cintai. Karena bagaimanapun hidup harus tetap dijalani." (Hal. 108)
            Kita juga dapat menemukan beberapa quote indah dan memotivasi, selain beberapa di atas. Yakni, "Cinta selalu menemukan jalan dengan kesungguhan hati. Kalau Kakak benar-benar serius mencarinya, pasti akan ketemu!" (Hal. 210) "Segelap apa pun hidup yang pernah dijalani, kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik selalu ada." (Hal. 232) Didukung cover novel yang unik, manis, pas menggambarkan novelnya.
Kekurangan
Hanya ada beberapa typo saja yang saya temui, yaitu:
Kata "adiknya", yang tertulis "adiknnya" (Hal. 136) dan kata "menyakitkan" yang tertulis dengan kata "meyakitkan." Dan menurut saya, alangkah lebih nyaman dibaca, kalau memakai font berbeda. Karena di font ini, huruf a dan o kadang salah baca. Karena menggunakan a latin, yang hampir menyerupai huruf o.

            Namun, di luar itu, tentu lebih banyak pelajaran hidup yang dapat kita selami dari kisah seruni. Memahami bagaimana menyikapi masalah, tidak menjadi pendendam, memaafkan orang lain dengan tulus, dan aneka hikmah lainnya yang memotivasi hidup kita lebih baik. Tentunya, sangat rekomendasi.

Menjadi Muslim yang Peduli Dakwah dan Pendidikan


Oleh: Siti Rokhanah



Tegal - Rektor Sekolah Tinggi Agama Islam STAI-PTDII Jakarta Utara, Dr. Ratono MA menyempatkan diri memberikan nasehatnya kepada sekelompok Mahasiswa dan Mahasiswi. Beliau memberikan nasehat singkat namun berkesan. Didengarkan seksama oleh Mahasiswa dan Mahasiswi yang tergabung dalam jamaah yang menamakan dengan Khayatun Nufus. Mereka adalah salah satu kelas prodi Pendidikan Agama Islam, fakultas Tarbiyah dari Sekolah Tinggi Agama Islam Bhakti Negara (STAIBN) Tegal.
Dr. Ratono MA ini menyampaikan tentang bagaimana menjadi generasi penerus di tengah krisis yang berkembang di Indonesia ini. Dimulai dari pengalamannya menjadi praktisi dakwah yang unik. Karena beliau sendiri tidak berlatar belakang pesantren. Histori singkatnya, beliau bukan seseorang yang sengaja dicetak jadi aktivis dakwah. Namun, kekuatan tekad dan rasa cintanya membuatnya mengarungi dunia yang mulia itu. Di antara beberapa temannya yang sudah dikader jadi pendakwah, bahkan hilang arah. Justru, melalui dirinya, Allah karuniakan amanah itu. Sebab inilah, menurutnya meyebut bahwa dakwah adalah anugerah.
Adapun beberapa hal yang patut disimpulkan dari nasehatnya selanjutnya yaitu:
Kalian sebagai mahasiswa terlebih yang berkecimpung di jalan pendidikan Islam, harus menguatkan tekad untuk berdakwah. Menyebarkan manfaat untuk sesama manusia karena Allah.
Senantiasa mengingat kembali bahwa Allah akan memuliakan derajat orang yang berilmu dengan beberapa derajat. Seorang Muslim hendaknya memegang kuat mementingkan betapa keutamaan mencari ilmu.
Allah sendiri yang sudah menerangkan dalam kalam-Nya Al- Mujadilah ayat 11.
"... Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat... "
Kiat untuk pribadi juga ditekankan untuk membentuk diri yang sholeh. Yaitu dengan menjaga sholat malam dan senantiasa menjaga tali ukhuwah atau persaudaraan sesama Muslim.
Namun, beliau pun menarik beberapa realita yang terjadi di negeri ini. Sehubungan dengan betapa peran Muslim terutama pemuda Islam dalam berjuang. Yakni dipaparkannya realita yang tak dapat dinafikan lagi. Negeri ini sudah sangat dicengkeram kapitalisme, komunisme, dan isme-isme lain yang bertentangan dengan Islam. Tak dapat dipungkiri juga sangat merugikan bangsa ini. Sebab itu, kita sebagai Muslim harus menegaskan diri dimana posisi kita. Karena dengan merebaknya paham-paham liberal, komunis, dan kapitalis itu, setidaknya nampaklah beberapa karakter yang sangat berbahaya. Yaitu karakter manusia munafik. Banyak srigala berbulu domba. Masuk berkulit pendakwah namun dibelakangnya memperjuangkan liberalisme, mendukung kaum kapitalis. Kita sekarang tak hanya harus menjadi generasi yang baik.

Generasi kita ini juga harus kritis menanggapi hal-hal itu. Serta mengambil peran yang benar sesuai perintah Allah. Tak lain, salah satunya adalah memahami pentingnya pendidikan sebagai aspek yang sangat krusial untuk kemajuan diri manusia dan peradaban Islam. Sebab dakwah dan pendidikan adalah dua sinergi yang sangat berkaitan. Harus tersinergi dengan baik karena memperjuangkan yang benar: sesuai apa yang Allah perintahkan dan bermanfaat luas bagi umat manusia.

Kedokansayang, Juli 2017

Sabtu, 18 Maret 2017

[CERMA] Kehormatan




(dimuat dalam Haluan, 25 Februari 2017)
Aku tidak tahu kenapa di dunia ini ada saja orang yang begitu menyebalkannya. Sibuk mengomentari orang lain, seakan-akan dirinya paling sempurna sedunia. Tentu sempurna menurut egonya. Apalagi hanya karena penampilan fisik seseorang, dan keseperti ituan.
            "Kakak,  Amira takut. Malu. Sepertinya mesti kembali ke pakai celana jeans dan kaos biasa aja deh. Gak perlu pakai kerudung gede kegini." Timpanya pada Nanda, Kakak perempuan satu-satunya.
            "Memang kenapa, Dek?"
            "Tadi di ledekiin temen-temen dibilang gak gaul. Ribet. Masa mau main pakai rok, kata mereka, Kakak. Aku malu. Segeng cuma aku yang pakai rok dan kerudung, Kak. Kayanya mesti berubah, deh." Bibirnya makin mengerosi.
            "Yasudah, besok adek pakai gamis aja, gak usah pakai, rok. Ok?"
            "Hah?"
            "Iya, katanya mau berubah?"
            "Tapi... itu bukannya malah?"
            "Udah, nurut aja. Kakak lebih pengalaman darimu, Dek."
***
Bel pulang bak hujan yangsudah dinanti selama musim kemarau. Seketika siswa-siswi berbaju putih biru itu berbondong keluar dari masing-masing kelas. Ada yang langsung ke gerbang menemui Ayahnya yang sudah menjemput, ada yang langsung ke parkiran, ada pula yang masih di kelas. Duduklah termenung di pojok paling belakang seorang siswi SMP berkerudung putih yang dijulurkan sampai dada. Tak berapa lama, datang beberapa teman segengnya meruntuhkan lamunananya.
            "Eh, Ra. Lu mau ikut kan nanti jam 3 sore? Ke mall. Hangout lah. Skalian nyari buku UN. Nanti kita ajak ke toko boneka yang pernah lu pengen kemarin, deh. Ayo, ikut ya. Jangan lupa, gak usah sok pake kerudung. Ini sekolah negeri, Ra. Bukan pesantren."
            Tak menjawab pertanyaan yang lebih mirip interogasi itu, Amira pun segera mengemasi buku-buku yang masih di atas meja dan menaruhnya di tas.
            "Maaf, ya aku harus segera pulang. Nanti tak kabari lagi lewat BBM. See you!"
            "Eh?" Mia, teman berpenampilan tomboy itu menaruh muka sangat heran.
            "Kenapa dia, gitu?"
            "Gak tau. Mugkn emang benar-benar ada penting." Nia menimpali.
***
Bruggg!!
            Tas dilemparnya begitu saja di sofa ruang tamu. Sambil mendesiskan suaranya.
            "Aduh... gimana ini."
            "Eh, Adik, kenapa? Tumben pulang-pulang langsung tepar gitu? Ganti baju dulu gih."
            "Kak, Amira bingung banget. Nanti jam tiga sore mau jalann-jalan ke mall, mau nyari buku juga. Tapi lebih pengin boneka sih."
            "Trus? Sama teman-temankan? Masih seGeng itu, kan?"
            "Nah, itu masalahnya, Kak. Mia, salah satu gtemen di geng itu, ngelarangku pakai rok, kerudung, apalagi gamis, yang Kakak sarankan." Gerutunya sebal.
            "Pakai saja gamisnya, Dek. Asal kamu tau, Dek. Bukan Kakak yang perintahin. Tpi yang menciptakan kita. Nanti Amira baca buku di meja belajarmu, Deh. Kaka belikan buku bagus untukmu."
***
Sekitar lima belas menit Amira terkesima dengan buku yang ia temui di meja belajarnya. Buku yang berisi panduan-panduan kemuslimahan. Salah satu di sana adalah kewajiban berhijab.
            "Astaghfirulloh, berarti selama ini, aku belum apa-apa?" Lirihnya.
            Beberapa jam kemudian, ia sudah berdiri di depan cermin. Mengenakan pakaian gamis merah muda, lengkap dengan keurudung hitam dengan aksen warna pink di tepinya.
            "Bismillah, ya Allah. Mudah-mudahan Amira bisaa." Mudh-mudahan melaului menutup aurat seepeti ini, menjadi awal Amira menjad ibaik sesuai pandangan-Mu." Lirihnya.
***
            "Hah? Ini kamu, Ra? Kamu sehat?" seru Nia, teman seGeng yang suka semua tentang korea itu.
            "Kamu mau ngaji kemana, Ra? Kamu gak lupa kan? Kita mau ke mall. Skalian nyari buku buat persiapan UN, Ra. Kamu yakin, pake begituan?" Tanya Nita.
            Amira hanya tersenyum menjawab pertanyaan teman-temannya itu, yang lebih mirip penghinaan baginya. Hingga muncul suara yang seketika meruntuhkan bulir-bulir air mata yang sedari tadi sudah tertabir oleh senyum.
            "Oh, jadi gini anak baru gede yang sok suci ini? Ngapain sih kamu pakai hijab gombrong kek gitu? Lu masih banyak salah! masih belum baik! Gak usah lah sok baik!"
            "Ok, gini aja. Sekarang lu pilih mau tetep jadi temen kita, dengan syarat ganti baju pakai biasa aja, atau lu gak usah main bareng The Hitz lagi. Kamu bebas!! Enyahlah bersama gamis gombrongmu!" Mia mencemooh dengan Amira dengan muka berapi-api.
            Tak tertahankan lagi. Seketika Amira nangis. Tanpa mengucap satu kata pun. Ia membalikkan tubunya dari teman-temannya. Beberapa detik kemudian memilih menjauh dari mereka. Pergi. Pulang.
***
            "Assalamualaikum..."
            "Waalaykumasalam, kenapa, Dek? Matamu itu? Teman-teman gengmu lagi?"
            Amira tak menjawab pertanyaan dari Kakaknya. Seketika duduklah ia di sofa ruang tamu.
            "Ayo, ceritain kenapa?"
            "Amira gak jadi pergi bareng-bareng temen, Kak. Mereka lagi-lagi menghinaku. Bilang sosk suci lah, masih belum baik perilakunya lah, dan sudah kuduga, Kak mereka sangat benci dengan penampilanku."
            "Sudah, jangan sedih. Ini belum apa-apa, di luar sana masih banyak Muslimah yang berjuang lebih keras dari pada kamu, Dek. Bahkan ada yang sampai rela mati hanya untuk mempertahankan hijabnya."
            "Benarkah, Kak?"
            "Iya. Kamu tau Ustadzah Irena Handono? Beliau muallaf yang saat memutuskan masuk Islam, dan keluarganya tau, ia diusir. Kamu masih beruntung tidak demikian, Dek. Masih ada keluarga utuh yang sangat menyayangimu."
            "Ada lagi di Palestina, Dek. Tentara Zionis dengan kejamnya menembak mati seorang Muslimah yang menutup aurat dengan hijabnya. Tentara Zionis yang lebih mirip monster terkejam di dunia itu, Dek. Kamu nanti bisa lihat videonya di Hp Kakak."
            "Astaghfirulloh, Maafin Amira.'
            "Kamu tahu kenapa Kakak tetap bersikeras menyuruhmu menutup aurat begini?"
            "Apa, Kak?"
            "Selain karena kamu sudah baligh dan itu suatu kewajiban untuk taat, suatu masa nanti di akhirat, Kakak takut ditanya kenapa membiarkan saudaranya sendiri berpakaian jahiliyah."
            "Kakak... ." Amira seketika memeluk Kakaknya erat.
            "Semoga kamu mengeerti, Dek. Adapun terhadap omongan-omongan sinis teman-temanmu itu, anggap saja seperti camilan yang membosankan. Lambat laun kau akan bosan dan menerima itu, Dek. Gak akan gampang nangis lagi, kalau dicaci. Sanggup berjuang memela Agamamu. InsyaAllah, Allah mengirimkan teman-teman yang jauh lebih baik dari The Hitz itu."

            "Aamiin... "
-SELESAI-

Jumat, 27 Januari 2017

[Resensi] Menyelami Kesabaran Tiada Batas



Judul Buku     : Tentang Kamu
Penulis            : Tere Liye
Penerbit          : Republika
Editor              : Triana Rahmawati
Cover              : Resoluzy
Lay out           : Alfian
Cetakan          : II, Oktober 2016


Blurb

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu,
itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku.
Cinta memang tidak perlu ditemukan,
cintalah yang akan menemukan kita.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali,
aku tidak akan menangis karena sesuatu telah
berakhir, tapi aku akan tersenyum karena
sesuatu itu pernah terjadi.

Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi.
Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir.
Maka biarlah hidupku mengalir seperti
sungai kehidupan.

Review

Tere Liye kembali hadir dengan novel terbarunya berjudul 'Tentang Kamu.' Berbeda dari karya sebelumnya, seperti Matahari, dan serialnya- yang bergenre fantasi. Novelnya kali ini lebih ke romance. Meski tidak semuanya berisi tentang hal percintaan. Lebih tepatnya, petualangan yang seru! Kenapa seru? Karena petualangan di sini menyelidiki kasus harta warisan dari perempuan bernama Sri Ningsih, yang mana justru menghabiskan masa tua di panti jompo. Tak menunjukkan apapun petunjuk untuk mengetahui siapa ahli warisnya, selain surat wasiat singkat.
            Jadilah Zaman Zulkarnaen, associate dari sebuah firma hukum bernama Thompson & Co., menelusuri jejak masa lalu Sri Ningsih. Menjelajah ke berbagai negara sampai ke pulau berpenduduk terbanyak di Indonesia, yaitu pulau Bungin. Perjalanan yang akan membuat kita belajar memaknai lebih dalam tentang nilai-nilai baik kehidupan ini. Tentang rasa sakit, kesabaran, keikhlasan, keteguhan hati, meluruh bersama kehidupan tokoh Sri Ningsih.
            Berbekal buku diary Sri Ningsih yang didapatkan Zaman Zulkarnaen dari Aimée
Buku diary Sri Ningsih tersusun atas beberapa bab, di novel ini disebut Juz.

Juz Pertama. Tentang kesabaran. 1946-1960.
            Terima kasih banyak atas pelajaran tentang kesabaran. Bapak, aku akhirnya memahaminya. Apakah sabar memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apa pun akan luruh oleh rasa sabar.... (Hal. 48)

            Apa rasanya hidup mendapat cap buruk? Pasti sedih sekali. Namun, berbeda dengan Sri Ningsih. Meski dijuluki 'Anak yang dikutuk,' ia tetap menjalani kehidupannya dengan kesabaran.
            "Kamu tahu kenapa bapakmu tenggelam di laut, hah?" (Hal. 104)
            "Itu karena kamu, anak sial! Anak yang dikutuk!
            "... Kamu membuat orang lain mati!" (Hal. 105)
            Semua penderitaan sejak bapaknya meninggal, ia terus jalani. Hidup bersama dengan Ibu tiri yang sudah tak baik seperti dulu lagi. Nusi Maratta, Ibu kedua yang berubah bak seorang monster yang ingin memakannya, setelah suaminya meninggal. Sri Ningsih hanya ingin menjadi anak yang patuh pada pesan bapaknya saat masih hidup.
            "Selama bapak pergi, hormati dan patuhi Ibumu. Lakukan apa yang dia suruh tanpa bertanya. Turuti apa yang dia perintahkan tanpa membantah. Jangan mudah menangis. Jangan suka mengeluh. Kamu adalah anak seorang pelaut tangguh. Bersabarlah dalam setiap perkara." (Hal. 95)
            Nusi Maratta terus menyiksa Sri Ningsih remaja, di sisi lain, ia dijadikan tulang punggung utama untuk Nusi Maratta dan anaknya yang sekaligus adik tiri Sri Ningsih, yaitu Tilamuta.
            "Malam ini kamu tidur di luar! Tidak ada dipan gratis!" (Hal. 107)
            "Ini pukul tujuh malam, Sri, Kenapa kamu mendadak ingin meminjam perahu? Kamu mau ke mana?" Ode bertanya.
            "Aku harus mengambil air bersih."
            "Tapi, tidakkah bisa ditunda besok? Langit gelap, sebentar lagi hujan."
Sri menggeleng, "Air di rumah habis. Ibuku menyuruh-" (Hal. 119)

Juz Kedua. Tentang Persahabatan. 1961-1966.
            Apa arti persahabatan? Apa pula arti pengkhianatan? Apakah sahabat baik akan menghianati sahabat baiknya? Bapak, Ibu, ternyata Sri bukan sahabat yang baik. Sri telah menghianati teman terbaik. Sri harus memilih, apakah sahabat sejati atau kebenaran.... (Hal. 141)

            Sepeninggal Ibunya, Sri bersama Tilamuta melakukan perjalanan jauh. Dari sumbawa sampai ke pulau Jawa. Berbekal petunjuk dan amanah dari Tuan Guru Bajang, mereka pun menyetujui untuk menuntut ilmu di Madrasah Kiai Ma'sum. Bahkan, di tempat  inilah Sri bisa memiliki dua sahabat terbaiknya. Yaitu Nuraini dan Sulastri. Hingga tiba di satu titik, persahabatan mereka runtuk oleh kedengkian.
            Di bab ini, kita juga dapat menilik sejarah singkat tentang PKI.
            "akhir september 1965, saat kelompok yang menamakan dirinya Partai Komunis Indonesia (PKI) berusaha habis-habisan menyusun rencana mengambil alih kekuasaan yang sah." (Hal. 181)
            Sulastri mengikuti suaminya, Musoh. Setelah Musoh memutuskan keluar dari Madrasah Kiai Ma'sum, karena merasa posisinya sudah tergantikan oleh suaminya Nuraini. Dia aktif di organisasi komunis itu. Dendam bercampur dengki dari istrinya semakin membuahkan murka. Pembantaian pun tak bisa dicegah.
            Bagaimana sikap Sri Ningsih? Apakah tetap memilih persahabatan atau kebenaran? Dilanjut ke juz selanjutnya.

Juz Ketiga. Tentang Keteguhan hati. 1967-1979.
            Saat kita sudah melakukan yang terbaik dan tetap gagal, apa lagi yang harus kita lakukan? Berapa kali kita harus mencoba hingga tahu bahwa kita tiba pada batas akhirnya? (Hal. 109)
Aku tahu sekarang, pertanyaan terpentingnya bukan berapa kali kita gagal, melainkan berapa kali kita bangkit lagi, lagi, dan lagi setelah gagal tersebut. (Hal. 110)

            Sri Ningsih memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Ia harus mengubah kehidupannya. Terutama, melupakan rasa sakit dan pengalamannya di Madrasah Kiai Ma'sum, setelah tragedi pembantaian PKI di sana. Terlebih, kabar adiknya, Tilamuta yang ikut terbunuh.
            Berbekal keberanian, Sri Ningsih terus mencoba mencari pekerjaan di Jakarta. Mencarinya dari hari ke hari. Pagi sampai gelap.
            "Ternyata mencari pekerjaan di jakarta susah, Nur. Kata siapa mudah. Setiap hari mulai pukul tujuh pagi aku berjalan kaki tiada henti menelusuri jalan-jalan, terik matahari membakar kepala, keluar-masuk bangunan, baru sorenya menjelang gelap aku pulang." (Hal. 219)
            Selama tiga bulan mengelilingi Jakarta untuk mencari pekerjaan, namun apa yang dicarinya ternyata hanya lima puluh meter dari tempat sewanya. Meski lebih tepat disebut sebuah pengabdian, karena menjadi pengajar di sebuah Sekolah Rakyat. Sri Ningsih menjadi guru bahasa asing. Sungguh, buah yang manis atas sebuah keteguhan hati.
            Bahkan, roda kehidupan membentuk cemerlang jiwa Sri Ningsih. Ia memutuskan keluar dari Sekolah Rakyat, dan berbisnis. Mulai dari inovasinya membuat gerobak kaki lima, rental mobil, sampai mendirikan pabrik sabun mandi, yang ia namai mereknya dengan 'Sabun Mandi Rahayu.' Nama Ibu kandungnya.
            Untuk yang menyukai dunia bisnis, pun bisa belajar dari naluri dan insting Sri Ningsih. Tentang memanfaatkan peluang, keberanian mengambil resiko, dan sebagainya.
            "Sri memiliki naluri bisnis yang tajam. Tahun-tahun itu, ketika Jakarta lebih dikenal dengan kampung luas- alih-alih metropolitan, Sri kembali menemukan ide baru, menyediakan rental mobil untuk orang asing. Sri memang tidak pernah mengenyam sekolah bisnis, atau belajar manajemen bisnis, tapi dia tahu persis segmentasi pasar yang akan dia garap. Sri melakukan riset secara otodidak, dan yang paling penting berani mengambil keputusan beresiko." (Hal. 245)
            "Kerja keras tidak pernah mengkhianati, Nur. Tiga bulan sejak rilis pertamanya, sabun 'Rahayu' laris manis." (Hal. 262)
            Namun di saat pabrik sabunnya sedang berkembang pesat, Sri Ningsih tiba-tiba menjual 100% kepemilikan pabrik. Dengan menjualnya lewat cara menukar saham. Sebagai imbalannya, perusahaan raksasa dunia yang membelinya itu memberikan 1% kepemilikan global absolut di perusahaan induknya.
            Keputusan Sri Ningsih yang mengejutkan itu, semakin menguliti rasa penasaran Zaman Zulkarnaen. Terlebih ia harus segera menemukan siapa ahli waris Sri.

Juz Keempat. Tentang cinta. 1980-1999.
            Bab diary yang cukup berbeda. Sebelumnya lebih mengisahkan tentang kesabaran, keikhlasan, keteguhan, di sini tentang cinta.
            Kepergian Sri Ningsih ke London dan memilih menjual pabriknya, turut menggoda penasaran saya juga. Untuk apa? Kenapa?
            Sri Ningsih justru mencari pekerjaan baru. Seperti saat ia pertama kali datang ke Jakarta. Lama mencari, hingga akhirnya ia mendapat pekerjaan sebagai supir bus. Itu pun harus dengan sangat memohon.
            "Aku butuh sekali pekerjaan, tolonglah. Apa saja yang bisa kulakukan di pool bus ini." (Hal. 315)
            Namun pemaparan di juz keempat dari buku diarynya Sri Ningsih inilah yang paling saya sukai. Terutama saat penulis menceritakan di Bab 24 "Tentang Kamu."
            Perkenalannya dengan pemuda asal Turki, bernama Hakan lama kelamaan menggoda hati Sri Ningsih. Perkenalan yang tak disengaja. Kekaguman Hakan pada Sri yang pemberani, saat mengusir pemuda yang membuat keributan di busnya. Berlanjut ke kebiasaan Hakan yang setiap pagi rela menaiki bus Sri, hanya untuk menyapanya beberapa menit. Sampai akhirnya, Sri mengetahui alasan dari sikap Hakan kepadanya selama ini.
            "Kalau kantornya di sana, kenapa dia setiap pagi naik bus rute 16 menuju arah selatan? Itu terbalik sekali dengan rute kantornya. Satu di atas, satu lagi di bawah, via kereta bawah tanah."
            "Yeap. Itulah rahasia kecilnya. Setiba di Victoria Bus Station, saat bus-mu melanjutkan rit, dia berlarian ke stasiun kereta Victoria, mengambil rute ke utara."
            "Anak muda itu sepertinya menyukaimu, Sri. Dia mengorbankan setidaknya satu jam untuk berputar setiap hari ke selatan. Memaksakan naik busmu sesuai jadwal., hanya untuk mengobrol lima menit, lantas berlarian kereta, menuju kantornya di utara. Aku tidak tahu, apakah dia tiba tepat waktu atau tidak di kantornya. Satu tahun penuh aku menyaksikan kegilaan ini." (Hal. 268-369)
            Keheranan Sri Ningsih mendengar kabar itu, membuatnya bertegas diri.
            "Apakah kantormu di British Telecom Watford, sebelah utara Greater London?"
            Hakan terdiam.
            "Jawab, Hakan." Sri mendesak
            Laki-laki Turki itu mengangguk.
            "Lantas kenapa kamu selalu naik bus-ku? Menuju ke selatan setahun terakhir? Kenapa menghabiskan waktu sejam untuk berputar arah? Buat apa?"
            Hakan terdiam lagi.
            "Karena... karena--" Hakan tak kuasa melanjutkan kalimatnya.
            Mata Sri berkaca-kaca, dia menangis. Itu tidak perlu lagi dikatakan. Sri sudah tahu.
            "Sore ini juga kamu datang ke apartemenku, Hakan. Bicara dengan keluarga Rajendra Khan. Jika kamu memang mencintaiku sebesar itu, bicara dengan Aabu, Aamii, mereka akan menjadi wakil keluargaku, tentukan tanggal pernikahan kita sore ini juga." (Hal. 370)
            Bukan hanya ketegasan diri seorang wanita yang dapat dipelajari dari bab ini. Namun, juga tentang pengorbanan. Ketulusan. Bahwa kebaikan secuil apapun yang lahir dari ketulusan, akan menemui kebahagiaan. Tiada sia-sia walau hanya kecil dipandang mata. Tiada merugi, walau semili. Manis sekali, bukan?

            Juz Kelima. Tentang memeluk semua rasa sakit. 2000-....
            Di sini lah akan diketahui. Tentang mengapa Sri Ningsih pergi ke London, saat pabriknya sedang berkembang pesat. Tentang fakta kondisi adiknya, Tilamuta. Dan tentang Sulastri, titik masa lalu yang cukup berpengaruh terhadap lika-liku kehidupannya. Juga tentang kenapa ia memilih tinggal di panti jompo, sedangkan ia mempunyai harta yang banyak?
            Jawabannya akan diketahui, saat menyelami juz terakhir dari diary Sri Ningsih. (biar penasaran :p , gak seru kan, kalau dipaparkan juga endingnya?)

-

Kelebihan Buku
Novel 'Tentang Kamu' ini, seperti halnya novel Tere Liye yang identik dengan pesan-pesan kehidupan. Di Novel ini pun, dapat kita pelajari makna nilai-nilai kehidupan itu. Tentang kesabaran, keikhlasan, dan impian. Tak luput, di sela-sela itu belum klop rasanya kalau tak menghadirkan kalimat-kalimat mutiara yang sangat menginspirasi. Antara lain yakni.


"Selemah apapun fisik seseorang, semiskin apa pun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya." (Hal. 48)

"Jika kita gagal 1000 x, maka pastikan kita bangkit 1001 x."(Hal. 210)

"Jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru."(Hal. 278)

"Cinta memang tidak perlu ditemukan, cinta-lah yang akan menemukan kita."(Hal. 286)

"Aku tidak akan menangis karena telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena asesuatu itu pernah terjadi."(Hal. 286)

"Karena dicintai begitu dalam oleh orang lain akan memberikan kita kekuatan, sementara mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh akan memberikan kita keberanian."(Hal. 286)

Secara tersirat, menurut saya penulis juga ingin menyampaikan bahwa karakter baik seseorang, itu jauh lebih berharga dari kondisi fisiknya. Hal ini tergambar pada tokoh Sri Ningsih, yang dijelaskan memiliki kondisi fisik pendek, gempal, dan hitam. Namun, kekayaan hatinya berupa keikhlasan, kesabaran, sangat kental dan lebih dirasakan pembaca.

Kekonsistenan karakter, alur, juga terjaga dengan baik, ditambah bahasa yang mudah dipahami, membawa pembaca bisa lebih mudah meresap makna ceritanya.

Kekurangan Buku
Sayang sekali, novel 'Tentang Kamu' ini masih memiliki beberapa typo yang cukup berulang kali.

Rasa cinta yang besar itu, lebih dari cukup untuk membuatnya menyayangi Sri Rahayu, seharusnya Rasa cinta yang besar itu, lebih dari cukup untuk membuatnya menyayangi Sri Ningsih (Hal. 84)

Hari itu, tahun 1955, usia Sri Rahayu menjelang sembilan tahun, seharusnya Hari itu, tahun 1955, usia Sri Ningsih menjelang sembilan tahun (Hal. 96)

Tapi Sri Rahayu berhasil menyelamatkan adiknya, Tilamuta. Seharusnya Tapi Sri Ningsih berhasil menyelamatkan adiknya (Hal. 137)

Tentang Sri Rahayu, anak yang dikutuk. Seharusnya Tentang Sri Ningsih, anak yang dikutuk (Hal. 137)

Sama seperti di Tukri. Seharusnya Sama seperti di Turki. (Hal. 342)

            Cover juga sejak awal lebih suka yang berlatar ombak dan batu karang. Menurut saya lebih mengena. Lebih menggambarkan tentang kesabaran, keteguhan hati, atas segala rintangan hidup yang dilalui oleh Sri Ningsih.

              Namun, di luar kekurangan itu, tentu masih lebih banyak sisi positifnya. Kita dapat belajar menyelami indahnya kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan hati dari tokoh Sri Ningsih ini. Sangat cocok pula untuk semua kalangan. Dari remaja sampai orangtua. Memahai agar tak mudah menyerah, ikhlas memeluk rasa sakit, serta menyelami makna, bahwa kesabaran tiada batasnya.


***

Resensi ini telah dimuat di Radar Sampit. Edisi Minggu, 22 Januari 2017