Kenapa harus nulis? Pertanyaan
sederhana, beraneka rupa jawabannya.
Namun, dari jawaban itulah yang cukup
andil—'kan jadi arahan langkah ke depannya mengarungi dunia aksara.
"Menulis adalah dedikasi penuh
untuk hidup dan untuk-Nya." (Tere Liye)
Menulis. Saya pun langsung teringat
beberapa kalimat motivasi dari Tere Liye. Seperti di atas. Menulislah untuk
dedikasi penuh hidupmu. Itu penulis produktif, ya... jawabannya begitu, pada
saat sebuah acara bincang santai.
Lalu, bagaimana saya?
Kalau ditanya seperti itu dan
menjelaskan dengan berbagai rupa, mungkin tak akan kelar sehari. Banyak hal
yang membuat kita ingin menulis. Beberapa di antara, kebanyakan orang adalah:
> Ingin berbagi dengan orang lain
> Ingin meluapkan ekspresi kita
> Ingin menciptakan perubahan
> Ingin saling menasehati
> Ingin mengorasikan kebebasan
jiwa, dan banyak hal lainnya.
Tapi, apapun itu tentu baik. Yang
harus ditekankan selalu adalah jangan menulis karena materi semata. Bisa apa
kita? Kalau hanya tujuannya materi, bisa kacau. Sangat mungkin akan menulis
hal-hal negatif sekali pun, karena ada pihak yang mau membayarmu dengan mahal. Jadi,
please jangan sampai, ya.
***
"Kalau menulis karena ketulusan,
berbagi, maka terus lakukan. Konsisten di dalamnya." (Tere Liye)
Ya, cukuplah quote itu mewakili
pertanyaan "kenapa saya harus nulis?" Saya menulis ingin untuk itu.
Menulis karena gelisah. Gelisah melihat banyak remaja lebih menghabiskan waktu
untuk hal-hal negatif, misalnya. Saya ingin berbagi. Menyentuh sisi lain dari
sebuah cara menasehati. Ya, terutama dunia remaja, khususnya. Rasanya ada
perasaan bersalah, kalau tak melakukan menulis. Bahkan, sesepele menulis status
facebook yang mengajak ke arah kebaikan pun, itu bagian dari sesuatu yang
barangkali itu yang dibutuhin mereka (remaja).
Jadi, menulis karena...
Peduli. Berbagi. Menasehati Diri.
Cinta.
Lalu, ketika rasa malas melanda, kita
akan kembali ke alasan-alasan itu—motivasi kita menulis.
Namun, ada satu hal yang pasti.
Menulis itu pekerjaan konkret. Nihil, kalau ingin menulis, tapi hanya sebuah
ingin menulis. Sebab itu, terus melatih diri menulis, adalah sebuah hal yang
perlu dilakukan.
Kenapa harus menulis (lagi)? Tentu
karena kita ingin bekerja untuk keabadian. Peduli, berbagi, dan ketulusan
niatmu adalah bekerja untuk keabadian. Bahkan, sampai nafas tiada. Apabila niat
kita baik, InsyaAllah tercatat kebaikan pula.
Adapun untuk kedepannya, kita disebut
penulis atau bukan, karena konsistensi. Jangan sampai baru nulis satu, dua
buku, lalu menyerah. Sebab itu niat-niat baik kita—secara tidak langsung akan
mempengaruhi proses kedepannya. Memotivasi, meski lagi malas-malasnya.
"Penulis yang baik dilihat bukan
dari sekarang. Tapi seberapa tahan banting kamu menghadapi konsisten
menulis." (Tere Liye)
Teruslah menulis, lagi, dan lagi...
Tegal, 31 Agustus 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar