(Dimuat di Joglo Semar, 13 Agustus 2017)
Oleh:
Siti Rokhanah
Hari itu, sekolah libur. Nana, yang
bersekolah di salah satu SD Negeri di kota Tegal pun berencana ke rumah
temannya.
"Ibu, Nana pamit, ya. Mau main
ke rumah Suci dulu. Assalamua'alaikum." Nana mencium punggung telapak
tangan Ibunya.
"Wa'alaikumsalam. Iya,
hati-hati, Sayang." Ibunya tersenyum.
Sesampainya
di rumah Suci, ada Kakak Suci. Namun, mereka berdua terlihat saling tak
menyapa, seperti habis bertengkar. Kakak Suci pun yang mempersilahkan Nana masuk.
"Suci, habis bertengkar,
ya?" Nana bertanya antusias, melihat ekspresi Suci yang sedih. Namun, Suci
hanya diam.
"Suci, Kita main aja yuk. Apa
ya enaknya? Yang seru! Biar kamu jangan cemberut terus." Nana tersenyum
lebar melihat Suci yang mengelap air mata.
"Main apa aja terserah,
Nana." Jawabnya singkat.
"Gimana kalau petak umpet?"
"Jangan, ah! Suci penginnya
yang duduk aja di sini."
"Yasudah, kita main tebak nama
buah-buahan aja. Sesuai huruf abjad, gimana?"
"Nanti yang tidak bisa nebak,
dicubit." Nana antusias sekali menjelaskan. Lalu segera meletakkan
jari-jari telapak tangannya ke tanah. Siap untuk bermain.
"Hm... Iya, deh. Nana yang
mandu aja."
Tangan
Suci pun segera menyiapkan jari-jarinya untuk dihitung. Sampai akhirnya, Nana
berhenti menghitungnya.
"A, B, C, D! Delima!"
Teriak Nana.
"Yey! Suci kalah. Sini
tangannya!" Nana menarik tangan Suci dan mencubitnya segera.
"Aww!! Aduh, sakit, Nana!
Kakaaak!!" Suci teriak histeris.
Nana bingung, sekaligus kaget
mendengar reaksi Suci. Dia pun segera lari dan pulang tanpa pamit.
***
"Kamu kenapa, Nak? Kenapa
lari-lari?" Ibu Nana heran melihat anaknya berlari dan terlihat sangat
cemas.
"Tidak apa-apa, Bu. Nana cuma
pengin buru-buru istirahat. Nana masuk dulu ya, Bu."
"Dimana Nana, Bu? Dia sudah bikin
Suci nangis, Bu." Syifa, Kakak Suci mendatangi rumah Ibunya Nana dengan
sangat kebal.
"Ada apa ini, Syifa? Ayo masuk
dulu ke rumah. Silahkan duduk." Ibu Nana semakin terheran.
"Nana... Kemari, Nak. Ada Suci,
nih." Ibunya memanggil Nana dari ruang tamu. Namun Nana masih ketakutan.
Dia pun pura-pura berbaring di kamarnya.
"Nana... Ayo, kesini, Nak."
Akhirnya, Nana pun keluar menemui
mereka. Wajahnya terlihat sangat takut. Apalagi Kakak Suci yang terkenal galak
itu yang menemui Ibu. Nana mendekat ke tempat duduk Ibunya.
"Nak, Apa benar Nana yang
nyubit Suci sampai nangis?" Ibu Nana bertanya.
Nana hanya membalas dengan anggukan
kecil.
"Nana sekarang minta maaf ke
Suci. Ayo, bilang tidak akan mengulanginya lagi."
Nana pun mendekat ke Suci dan mengulurkan
tangannya.
"Maafin Nana ya, Suci. Nana
tidak bermaksud membuat Suci nangis."
Suci hanya mengangguk.
"Nak, lain kali jangan begitu,
lagi, ya. Ibu tidak ingin anak Ibu nakal dan tidak mau bertanggung jawab dari
perbuatannya. Kalau berbuat salah, harus berani bertanggung jawab. Nana paham,
kan?"
"Iya, Bu. Nana tidak akan
mengulanginya lagi. Nana akan belajar bertanggung jawab." Nana tersenyum
lega.
-SELESAI-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar