Pages

Jumat, 22 Desember 2017

[CERNAK] Nana Belajar Bertanggung Jawab

(Dimuat di Joglo Semar, 13 Agustus 2017)
Oleh: Siti Rokhanah

            Hari itu, sekolah libur. Nana, yang bersekolah di salah satu SD Negeri di kota Tegal pun berencana ke rumah temannya.
            "Ibu, Nana pamit, ya. Mau main ke rumah Suci dulu. Assalamua'alaikum." Nana mencium punggung telapak tangan Ibunya.
            "Wa'alaikumsalam. Iya, hati-hati, Sayang." Ibunya tersenyum.
Sesampainya di rumah Suci, ada Kakak Suci. Namun, mereka berdua terlihat saling tak menyapa, seperti habis bertengkar. Kakak Suci pun yang mempersilahkan Nana masuk.
            "Suci, habis bertengkar, ya?" Nana bertanya antusias, melihat ekspresi Suci yang sedih. Namun, Suci hanya diam.
            "Suci, Kita main aja yuk. Apa ya enaknya? Yang seru! Biar kamu jangan cemberut terus." Nana tersenyum lebar melihat Suci yang mengelap air mata.
            "Main apa aja terserah, Nana." Jawabnya singkat.
            "Gimana kalau petak umpet?"
            "Jangan, ah! Suci penginnya yang duduk aja di sini."
            "Yasudah, kita main tebak nama buah-buahan aja. Sesuai huruf abjad, gimana?"
            "Nanti yang tidak bisa nebak, dicubit." Nana antusias sekali menjelaskan. Lalu segera meletakkan jari-jari telapak tangannya ke tanah. Siap untuk bermain.
            "Hm... Iya, deh. Nana yang mandu aja."
Tangan Suci pun segera menyiapkan jari-jarinya untuk dihitung. Sampai akhirnya, Nana berhenti menghitungnya.
            "A, B, C, D! Delima!" Teriak Nana.
            "Yey! Suci kalah. Sini tangannya!" Nana menarik tangan Suci dan mencubitnya segera.
            "Aww!! Aduh, sakit, Nana! Kakaaak!!" Suci teriak histeris.
            Nana bingung, sekaligus kaget mendengar reaksi Suci. Dia pun segera lari dan pulang tanpa pamit.
***
            "Kamu kenapa, Nak? Kenapa lari-lari?" Ibu Nana heran melihat anaknya berlari dan terlihat sangat cemas.
            "Tidak apa-apa, Bu. Nana cuma pengin buru-buru istirahat. Nana masuk dulu ya, Bu."
            "Dimana Nana, Bu? Dia sudah bikin Suci nangis, Bu." Syifa, Kakak Suci mendatangi rumah Ibunya Nana dengan sangat kebal.
            "Ada apa ini, Syifa? Ayo masuk dulu ke rumah. Silahkan duduk." Ibu Nana semakin terheran.
            "Nana... Kemari, Nak. Ada Suci, nih." Ibunya memanggil Nana dari ruang tamu. Namun Nana masih ketakutan. Dia pun pura-pura berbaring di kamarnya.
            "Nana... Ayo, kesini, Nak."
            Akhirnya, Nana pun keluar menemui mereka. Wajahnya terlihat sangat takut. Apalagi Kakak Suci yang terkenal galak itu yang menemui Ibu. Nana mendekat ke tempat duduk Ibunya.
            "Nak, Apa benar Nana yang nyubit Suci sampai nangis?" Ibu Nana bertanya.
            Nana hanya membalas dengan anggukan kecil.
            "Nana sekarang minta maaf ke Suci. Ayo, bilang tidak akan mengulanginya lagi."
            Nana pun mendekat ke Suci dan mengulurkan tangannya.
            "Maafin Nana ya, Suci. Nana tidak bermaksud membuat Suci nangis."
            Suci hanya mengangguk.
            "Nak, lain kali jangan begitu, lagi, ya. Ibu tidak ingin anak Ibu nakal dan tidak mau bertanggung jawab dari perbuatannya. Kalau berbuat salah, harus berani bertanggung jawab. Nana paham, kan?"
            "Iya, Bu. Nana tidak akan mengulanginya lagi. Nana akan belajar bertanggung jawab." Nana tersenyum lega.

-SELESAI-

Tidak ada komentar: