Pages

Selasa, 28 Februari 2023

NIAT MENULIS


(Foto: Koleksi Pribadi)


"Apa sih niatmu menulis?" Satu pertanyaan yang kutanyakan setiap ada yang ingin belajar menulis. Satu pertanyaan juga yang kupertanyakan pada diriku sendiri, kalau merasa "jenuh" akan beberapa hal.

Lalu, bersamaan dengan itu agaknya ingin  mengingat untuk lebih merawat kesadaran, kalau aku lupa dan ragu dalam arah perjalanan. Hampir selalu kujawab pertanyaan itu dengan, "Perjalanan menulismu, akan sesuai dengan niat awal menulismu."

Menulis itu... salah satu hal yang harus dekat dengan kerendahan hati. Sefiksi apapun tulisan yang dibuat, pasti ada gerak hati yang tertinggal disana. Kamu, tak bisa lari darinya. Jadi, wajar saja... Kalau dalam perjalanan ada yang membuatmu sangat tidak nyaman, mengganggu arah, pasti hatimu sendiri yang terlebih dahulu merasakan.

Aku masih ingat jelas bagaimana aku memberanikan diri menulis buku cetak. Yah, bisa dibilang awal menulisku dari kaum buku cetak alias buku fisik. Saat itu, yang kuharapkan hanya ingin menaruh indahnya kekagumanku tentang makna luas pendidikan. Sedikit banyak, buku pertamaku itu tentang seorang gadis kecil dari keluarga kurang mampu, hanya bangku sekolah dasar, tapi terus belajar dari pengalaman hidup. Dan, aku kagum akan proses belajar dan pendidikannya. Yah, semacam itu saja.

Tak lain, ada harap kelak nanti... kalau Tuhan karuniakan keturunan, anak-anakku bisa belajar lewatnya. Yah, bisa dibilang buku itu semacam tali penyambung sejarah—merawat makna dan merawat sejarah. Yah, sesederhana itu. 

Apakah buku itu bagus? Wah, menurutku jauh dari kata bagus. Sangaaat jelek! Wkwk yah, aku akui itu. Tapi, entah kenapa aku berani menuliskan dengan niat semacam itu. Dan, hal-hal tak terduga terjadi. Lewat momen itu, aku merasa jadi jalan banyak dipertemukan orang-orang baik dan pengalaman yang belum pernah aku rasakan. Yang mana... aku bisa bilang cukup menakjubkan bagiku yang sangat pemula.

Lompat ke dua tahun belakangan ini, aku coba mencicipi ranah menulis dalam buku digital atau akrab disapa platform digital. Dimana menulis, tak sepanjang proses menerbitkan buku cetak. Tentu, tergantung medianya juga, sih. 

Aku seperti sedang dituntun melihat begitu derasnya arus semangat menulis. Ternyata, menulis bisa sebegitu meriah dan bahkan "mewah" dalam tanda kutip. Meski resikonya, tentu ada banyak hal yang memanfaatkan arus yang ramai itu dengan berbagai kepentingan pribadi dan kapitalis semata. Tapi, ya itu resiko pilihan menu kehidupan saja. Yang lebih ingin kuingat, lewat dua tahunan ini aku bersyukur bisa dipertemukan dengan teman-teman dari berbagai kalangan.

Ada banyak background penulis dengan segudang kisah yang kadang membuatku kagum dan menangis. Ada pula editor-editor yang karakternya cukup jadi panutanku dalam menyikapi kehidupan. Aku suka membaca hal-hal semacam itu. 

Tak luput, terima kasih pula untuk diriku sendiri sudah mau mencicipi rasanya jadi ambassador suatu platform yang sempat begitu membludak dengan ribuan penulis, meng-assist editor padahal masih newbie, membaca karakter penulis yang beraneka rupa, tak luput job-job "dibalik layar" yang privasi untuk disebutkan. Yang pasti, itu semua bagian dari pengalaman yang patut disyukuri. Bagian dari bacaanku memaknai luasnya rezeki.

Lewat tulisan ini, aku ingin selalu mengingat satu hal. Jika suatu hari nanti, badai atau kerikil apapun kembali membuatmu merasa "jenuh" cukup ingat rumah. Rumah dimana kamu menanam niat dan tujuan awal tinta ditorehkan—rasakan bagaimana kau ingin melihatnya merekah dengan ibu ketulusan. Bukan sekadar tumbuh, tak tahu arah tujuan. Sebab bagaimanapun, ada benarnya suatu nasihat lama, "Kreativitas lahir dari perasaan cinta." "Jangan bosan merawat niat dan tujuan, semoga dengan itu lebih mendamaikan hatimu, Na."

Bila kembali masih terasa begitu jenuh, ingat pula nasihat yang indah itu, "Jangan berjalan lebih cepat atau lebih lambat dari jiwamu." Yah, bagaimana cukup belajar terus membaca diri, jarak, dan realita. Selalu coba rasakan energi-energi positif saja, yah.

Aku ingin menutup tulisan pengingat diri ini dari Paulo Coelho tentang bunga dan sungai.

Ketika itu, bunga bertanya, "Apakah kau merasa berguna, sebab bukankah kau sekadar mengalir ke arah yang sama?"

Lalu, sungai itu menjawab, "Aku tidak mencoba untuk berguna; aku mencoba untuk menjadi sungai."

"Di mata Tuhan, tak ada yang tidak berguna di dunia ini. Sehelai daun yang jatuh dari pohon, seutas rambut dari kepalamu, bahkan serangga yang mati sekalipun, bukannya tak berguna. Segala sesuatu memiliki alasan untuk hidup." (Paulo Coelho)

27 Feb 2023

#selfreminder #pengingatdiri #tulisanpengingatdirikusendiri