Point of view atau sudut pandang
dalam sebuah cerita. Berikut ada beberapa contoh.
Namaku Hana, lahir sama
seperti hari dimana ayahku dilahirkan. Rumahku laksana istana, namun aku merasa
semua seperti neraka. Ibuku, tak seperti ibu pada umumnya. Dan hal itu
membuatku kacau. Bajuku, dan bahkan semua barang milikku, kini bertebaran dikamarku.
Aku tidak perduli lagi, sebagaimana mereka tidak memperdulikanku.
Itulah penyakit pov pertama/sudut
pandang pertama. Ingat jangan sampai memakai kata aku -baik sebagai pelaku,
atau pemilik- lebih dari tiga kali dalam satu paragraf. Hal itu guna menciptakan
kalimat yang efektif.
Coba perhatikan lagi contoh yang
lain.
Malam yang hening. Mira masih
terdiam dalam ruangan yang terlihat seperti kandang. Senyap, dan Mira hanya
bisa menatap dinding polos dengan tatapan kosong. Mira masih terdiam, seperti
layaknya jasad tak berjiwa. Dalam pikiran Mira, semua masalah malam itu, akan
membuat masa depannya hancur.
Penyakit POV kedua, rata-rata
terlalu banyak memakai nama. Maka untuk membuat cerita menjadi efektif, gunakan
maksimal tiga nama yang serupa dalam satu paragraf.
Lalu bagaimana cara menyiasatinya?
Caranya adalah dengan mengganti
nama si tokoh dengan kata "dia, nya, gadis itu, dll"
Atau bisa juga mengganti dengan
ciri-cirinya.
Contoh, gadis berambut sebahu itu sedang menangis.
Kalau sudut pandang
"aku" maka harus pandai memutar kalimat.
Contoh, aku memutar gelasku
yang bentuknya tidak bulat. Dan aku berharap gelas itu akan berubah menjadi
uang.
Sekarang kita rubah
Aku memutar sebuah gelas yang
bentuknya tidak bulat, berharap gelas itu akan berubah menjadi uang.
Intinya usahakan agar kalimat
kita efektif sehingga tidak membosankan. Karena penulis adalah penyihir dengan
kata-kata.
Sumber: Hasil diskusi KIM 01 B. Untuk komunikasi bisa via fanspage fb Komunitas Indonesia Menulis.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar