Pages

Jumat, 06 Mei 2016

[Resensi] Membingkai Kerumitan dengan Kesederhanaan




Penulis        : Tere Liye
Judul Buku : Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Penerbit      : Republika
Cetakan      : I, Februari 2009
Halaman     : iv+427 hlm 20.5 x 13.5 cm

"Kau benar, Ray. Ada satu janji Tuhan. Janji Tuhan yang sungguh hebat, yang nilainya beribu kali tak terhingga dibandingkan menatap rembulan ciptaan-Nya. Tahukah kau? Itulah janji menatap wajah-Nya. Menatap wajah Tuhan. Tanpa tabir, tanpa pembatas... Saat itu terjadi maka sungguh seluruh rembulan di semesta alam tenggelam tiada artinya. Sungguh pesona dunia akan layu. ..." (hal.425)

Ray, begitulah panggilan Rehan. Tokoh utama dalam novel ini. Seorang yang kenyang pahit getirnya kehidupan kehidupan sejak kecil.

Masa kecilnya, tak seriang anak biasanya. Bahkan seringkali mengutuk kenapa ia harus dibesarkan dalam panti itu. Sebuah panti yang menurutnya kejam. Tersudut kebencian utamanya pada penjaga panti yang menurutnya biadab. Pecut rotan, Guyur hujan malam--karena dihukum akibat ulah nakalnya, sudah jadi seperti cemilan kehidupannya. Ia pun tumbuh dalam kebencian yang akut. Meski sebenarnya anak yang cerdas. Sayangnya, lingkungan tak mendukung. Batinnya pun kadang iri, saat di jalanan melihat anak panti lain, berseragam sekolah. Sementara ia harus kerja, setor, dan perlakuan kasar dari penjaga panti.

Aneka kejadian dalam masa pelik hidupnya, mengundang berbagai pertanyaan tentang kehidupan. Kadang dia merasa apakah Tuhan itu adil, Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi, dan beberapa pertanyaan lainnya.

Mengutip dua pertanyaan di dalam Novel, Sebenarnya pertanyaan Apakah Tuhan itu adil, bukan hanya karena sesak pahitnya kebencian terhadap penjaga panti, kenapa Diar--yang menjemput kematian dulu, kenapa lukisan Ilham harus hancur gara-gara preman, atau
kenapa Natan harus kehilangan suara dan cacat karena dipukuli preman yang menyebabkan ia gagal mengikuti festifal musik? Tapi pertanyaan itu bermuara pada kenapa ia harus hidup di panti kejam itu dan siapa ayah ibunya.

Rentetan kejadian membawanya memahami. Bahwa hidup ini ada sebab-akibat. Suatu hal yang terlihat buruk oleh kita, itu bisajadi menjadi sebab perubahan baik seseorang. Contohnya pada Natan, yang cacat. Namun tak disangka dari kekurangannya itu ia jadi pencipta lagu hebat. Dan ternyata mimpinya pun mulia. Yakni bisa menjadi sebab melunakkan hati seseorang. Semacam motivator. Ini salah satunya, bukti Tuhan selalu adil. Kita yang seringkali mudah menyimpulkan sesuatu: buruk sangka.

Ray, mengenyam liku pahitnya mulai dari panti yang menurutnya kejam, keluar panti dan jadi anak jalanan, berjudi, mengamen, bahkan jadi partner pencuri berlian..

Belasan hingga usianya puluhan tahun. Tiba di masa pertemuannya pada gadis bernama Fitri, meski dia memiliki masa lalu yang pahit, namun Ray tulus mencintainya. Pernikahan pun terlaksana. Kehidupannya berjalan aduhai romantisnya. Seperti pasangan muda yang selalu bahagia. Karir Ray pun sudah berubah cukup drastis. Dari jadi kuli, mandor, dan sampai ke tingkat yang lebih tinggi karena kecerdasannya. Kehidupan Ray dan Fitri berubah jadi kelam saat takdir memisahkan keduanya. Si 'Gigi Kelinci', sebutan Ray untuk istrinya itu, meninggal dunia. Menyusul sebelumnya: calon anak yang telah lebih dulu pergi. Hingga kesedihan itu mengukir tanya "Kenapa langit tega sekali mengambil istrinya. Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi?."

Namun, perihal itu akan lebih dipahami saat orang mau melihat dari sisi yang pergi, bukan dari sisi yang ditinggalkan. Itu sederhananya.

"Ketahuilah Ray, bagi istrimu, sejak pernikahan kalian, maka tujuan hidupnya menjadi amat sederhana. Kau sering mendengar istrimu berkata, 'Bagiku kau ikhlas dengan semua yang kulakukan untukmu. Ridha atas perlakuanku padamu. Itu sudah cukup' Nah, itulah tujuan hidup istrimu. Amat sederhana.(hal.316)

Sebuah novel yang dikemas dengan bahasa yang bagi saya, membuat berfikir. Tak luput kalimat indah, puitis menambah patut diselami. Di dalamnya tak hanya perihal romansa percintaan. Tapi lebih banyak tentang bagaimana seseorang menyikapi pelik, pahit, entah segetir apapun yang dihadapinya. Terasa sekali, betapa kita di dunia ini pada akhirnya bukan apa-apa. Nol akan ke nol. Semuanya akan jadi benar-benar kosong, kala ambisi rakus cinta dunia itu menguasai manusia.

Kekurangan novel, Mungkin, dari judulnya saya bingung kenapa kata mu nya, huruf M nya tidak pakai kapital jika dituju untuk Tuhan. Padahal di akhir kisah, bukankah maksud judul ini diambil dari kebiasaan tokoh Ray, saat mengalami penatnya hidup, lalu dengan memandang rembulan, ia merasa dunia ini ada yang lebih indah. Meski pada hakikatnya rembulan pun hanya segelintir. Terkalahkan mahabesar menatap wajah Tuhan. Lalu, mungkin, ada yang kurang suka atau bosan dari kalimat yang sering diulang. Tapi, saya tetap suka. Dari makna yang dapat kita ambil. Hikmah pesan jauh lebih besar dari kekurangan itu. Meski fantasi, tapi ini sangat memotivasi. Rekomendasi nih, buat kamu.

Dan, beberapa qoute yang saya suka dan memotivasi yakni


"Kalian mungkin memiliki masa lalu yang buruk, tapi kalian memiliki kepal tangan untuk merubahnya." (hal.96)

Tidak ada komentar: