Penulis :
Tere Liye
Judul
Buku : Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Penerbit :
Republika
Cetakan :
I, Februari 2009
Halaman :
iv+427 hlm 20.5 x 13.5 cm
"Kau
benar, Ray. Ada satu janji Tuhan. Janji Tuhan yang sungguh hebat, yang nilainya
beribu kali tak terhingga dibandingkan menatap rembulan ciptaan-Nya. Tahukah
kau? Itulah janji menatap wajah-Nya. Menatap wajah Tuhan. Tanpa tabir, tanpa
pembatas... Saat itu terjadi maka sungguh seluruh rembulan di semesta alam
tenggelam tiada artinya. Sungguh pesona dunia akan layu. ..." (hal.425)
Ray,
begitulah panggilan Rehan. Tokoh utama dalam novel ini. Seorang yang kenyang
pahit getirnya kehidupan kehidupan sejak kecil.
Masa
kecilnya, tak seriang anak biasanya. Bahkan seringkali mengutuk kenapa ia harus
dibesarkan dalam panti itu. Sebuah panti yang menurutnya kejam. Tersudut
kebencian utamanya pada penjaga panti yang menurutnya biadab. Pecut rotan,
Guyur hujan malam--karena dihukum akibat ulah nakalnya, sudah jadi seperti
cemilan kehidupannya. Ia pun tumbuh dalam kebencian yang akut. Meski sebenarnya
anak yang cerdas. Sayangnya, lingkungan tak mendukung. Batinnya pun kadang iri,
saat di jalanan melihat anak panti lain, berseragam sekolah. Sementara ia harus
kerja, setor, dan perlakuan kasar dari penjaga panti.
Aneka
kejadian dalam masa pelik hidupnya, mengundang berbagai pertanyaan tentang
kehidupan. Kadang dia merasa apakah Tuhan itu adil, Kenapa takdir menyakitkan
itu harus terjadi, dan beberapa pertanyaan lainnya.
Mengutip
dua pertanyaan di dalam Novel, Sebenarnya pertanyaan Apakah Tuhan itu adil, bukan
hanya karena sesak pahitnya kebencian terhadap penjaga panti, kenapa Diar--yang
menjemput kematian dulu, kenapa lukisan Ilham harus hancur gara-gara preman,
atau
kenapa
Natan harus kehilangan suara dan cacat karena dipukuli preman yang menyebabkan
ia gagal mengikuti festifal musik? Tapi pertanyaan itu bermuara pada kenapa ia
harus hidup di panti kejam itu dan siapa ayah ibunya.
Rentetan
kejadian membawanya memahami. Bahwa hidup ini ada sebab-akibat. Suatu hal yang
terlihat buruk oleh kita, itu bisajadi menjadi sebab perubahan baik seseorang.
Contohnya pada Natan, yang cacat. Namun tak disangka dari kekurangannya itu ia
jadi pencipta lagu hebat. Dan ternyata mimpinya pun mulia. Yakni bisa menjadi
sebab melunakkan hati seseorang. Semacam motivator. Ini salah satunya, bukti
Tuhan selalu adil. Kita yang seringkali mudah menyimpulkan sesuatu: buruk
sangka.
Ray,
mengenyam liku pahitnya mulai dari panti yang menurutnya kejam,
keluar panti dan jadi anak jalanan, berjudi, mengamen, bahkan jadi partner
pencuri berlian..
Belasan
hingga usianya puluhan tahun. Tiba di masa pertemuannya pada gadis bernama
Fitri, meski dia memiliki masa lalu yang pahit, namun Ray tulus mencintainya.
Pernikahan pun terlaksana. Kehidupannya berjalan aduhai romantisnya. Seperti
pasangan muda yang selalu bahagia. Karir Ray pun sudah berubah cukup drastis.
Dari jadi kuli, mandor, dan sampai ke tingkat yang lebih tinggi karena
kecerdasannya. Kehidupan Ray dan Fitri berubah jadi kelam saat takdir
memisahkan keduanya. Si 'Gigi Kelinci', sebutan Ray untuk istrinya itu,
meninggal dunia. Menyusul sebelumnya: calon anak yang telah lebih dulu pergi.
Hingga kesedihan itu mengukir tanya "Kenapa langit tega sekali mengambil
istrinya. Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi?."
Namun,
perihal itu akan lebih dipahami saat orang mau melihat dari sisi yang pergi,
bukan dari sisi yang ditinggalkan. Itu sederhananya.
"Ketahuilah
Ray, bagi istrimu, sejak pernikahan kalian, maka tujuan hidupnya menjadi amat
sederhana. Kau sering mendengar istrimu berkata, 'Bagiku kau ikhlas dengan
semua yang kulakukan untukmu. Ridha atas perlakuanku padamu. Itu sudah cukup'
Nah, itulah tujuan hidup istrimu. Amat sederhana.(hal.316)
Sebuah
novel yang dikemas dengan bahasa yang bagi saya, membuat berfikir. Tak luput
kalimat indah, puitis menambah patut diselami. Di dalamnya tak hanya perihal
romansa percintaan. Tapi lebih banyak tentang bagaimana seseorang menyikapi
pelik, pahit, entah segetir apapun yang dihadapinya. Terasa sekali, betapa kita
di dunia ini pada akhirnya bukan apa-apa. Nol akan ke nol. Semuanya akan jadi
benar-benar kosong, kala ambisi rakus cinta dunia itu menguasai manusia.
Kekurangan
novel, Mungkin, dari judulnya saya bingung kenapa kata mu nya, huruf M nya
tidak pakai kapital jika dituju untuk Tuhan. Padahal di akhir kisah, bukankah
maksud judul ini diambil dari kebiasaan tokoh Ray, saat mengalami penatnya
hidup, lalu dengan memandang rembulan, ia merasa dunia ini ada yang lebih
indah. Meski pada hakikatnya rembulan pun hanya segelintir. Terkalahkan
mahabesar menatap wajah Tuhan. Lalu, mungkin, ada yang kurang suka atau bosan
dari kalimat yang sering diulang. Tapi, saya tetap suka. Dari makna yang dapat
kita ambil. Hikmah pesan jauh lebih besar dari kekurangan itu. Meski fantasi,
tapi ini sangat memotivasi. Rekomendasi nih, buat kamu.
Dan,
beberapa qoute yang saya suka dan memotivasi yakni
"Kalian
mungkin memiliki masa lalu yang buruk, tapi kalian memiliki kepal tangan untuk
merubahnya." (hal.96)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar