"...
mumpung dereeng diraawuhi, maalaaikat juru pati..."
Salah
satu lirik dari grup Hadroh yang cukup populer teralun di telinga sore ini. Tak
lain artinya adalah "... mumpung belum didatangi, malaikat kematian..."
suatu kalimat sederhana tapi pasti hampir selalu ada sisi nilainya tersendiri bagi yang
merenungkannya.
Kematian
adalah batas. Kematian adalah waktu; waktu yang akan memisahkan antara jasad
dan ruhnya. Waktu penantian sebuah kehidupan yang sebenarnya. Kapan, di mana,
dan sedang apa pun tak akan ada yang pernah tau. Herannya zaman secanggih ini.
Dimana orang bisa pergi ke bulan, membuat aneka macam penemuan teknologi yang
mempermudahkan kehidupan manusia; hingga menggeser pekerjaan manusia. Namun di
luar kehidupan sana, sangat miris melihat yang masih percaya zodiak.
Bahkan, sebuah majalah dinding atau disebut mading ini pun seringkali memajangnya. Hari ini kamu akan... nasibmu akan.. bla.. bla.. bla... . Dusta! Satu-satunya sikap tegas dalam menjumpainya cukup satu; tinggalkan ramalan. Tiada yang dapat mengetahui rahasia-Nya. Detik setelah ini pun tiada yang tau akan apa, dan bagaimana jasad ini. Kematian tak akan menyapa kapan bertamu, tapi dia pasti akan bertamu.
Bahkan, sebuah majalah dinding atau disebut mading ini pun seringkali memajangnya. Hari ini kamu akan... nasibmu akan.. bla.. bla.. bla... . Dusta! Satu-satunya sikap tegas dalam menjumpainya cukup satu; tinggalkan ramalan. Tiada yang dapat mengetahui rahasia-Nya. Detik setelah ini pun tiada yang tau akan apa, dan bagaimana jasad ini. Kematian tak akan menyapa kapan bertamu, tapi dia pasti akan bertamu.
8
Ramadhan 1437 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar