Pages

Sabtu, 25 Juni 2016

Gunung Agung, Cawitali, Bumijawa (Tegal)

"...Alam hampir selalu menawarkan pesonanya yang begitu memikat. Mata manusia pun tak luput dari rasa penasaran ingin mengenalnya lebih dekat." 

Mulai dari gunung, pantai, dan waduk, serta banyak tempat yang suka dikunjungi orang untuk lebih dekat dengan alam. Entah untuk memang benar-benar dekat dekat alam atau pun sekedar melapas penat. Kali ini mataku dan tepatnya karena diajak temanku; Naa, tertuju pada rencana ikut sebuah grup pendakian yang akan ngetrip ke Gunung Agung, Cawitali, Bumijawa, Tegal. Meski di brosur namanya Gunung Agung, namun tempat ini lebih mirip seperti bukit.


Tak ingin menceritakan seluruhnya dari perjalanan menapaki pendakian pertama dalam sejarah hidup ini (hah!). Dan bertekad tak ingin ikut lagi ini. Bukan karena apa atau apa. Tapi ada hal lain yang memang prinsipil.
Jalan ke arah Cawitali memang rusak; cukup ekstrim untuk seorang perempuan. Temanku, Naa pun sempat kewalahan ditambah lihat bensin yang super limited, eh Alhamdulillaah sampai di tempat singgah.


Dipercepat aja yah, (beneran gak pengin nyritain semuanya! Please ngertiin aja! *apaan coba?) Diawali dengan do'a bersama kami pun mulai menyusuri perumahan warga, gang-gang, arus sungai kecil, sawah, arus sungai lagi, nanjak, turun, nanjak, turun. Sempat beberapa kali break, Subhanallaah hal ini mungkin bila Allaah mengizinkan tak ingin kulupakan sepanjang hidup. Langit malam bertabur bintang, rumah-rumah yang lebih mirip rumah-rumahan karena dari tempat kami break, seperti seukuran jari saja. Beberapa jam terlewati, setelah jalur akhir menapaki jalanan menanjak dipenuhi semak belukar (bentuknya semacam ilalang tapi lebih keras: entah apa namanya) seukuran hampir tinggi badan orang dewasa, jalanan yang cukup becek, kami pun sampai. Sebelumnya sempat ada yang sempat salah jalur, dan beberapa turun ke bawah, eh malah waktu-waktu ini dijadiin break deh. Subhanallaah, ini spot lebih indah lagi; Langit yang begitu menakjubkan.


Gunung Agung, kami sampai. Dan menjelang subuh adalah saat-saat yang begitu sejuk. Sembari menanti fajar terbit pula. Namun, lagi-lagi aku hanya ingin menjadikan ini pendakian pertama dan terakhirku karena prinsipil itu.

"... Sejauh mata meracaui alam-Mu, apa manfaatnya jika tak semakin mendekatkan diri pada-Mu?"


Bumijawa, 2-3 April 2016

Tidak ada komentar: